Catatan Kecil di Lembah Karmel

Lembah Karmel
SEBUAH bus dengan kapasitas 40 orang terus melaju di jalan tol Ciawi Bogor. Sebagian penumpang terlelap. Sebagian lagi asyik dengan gadget. Aku duduk di kursi nomor dua di sebelah kiri sopir. Seorang perempuan paruh baya duduk di sebelahku. Ia membaca buku Ziarah Batin. Di sebelah kananku duduk seorang dara yang kemudian kuketahui bernama Chatelia. Nama yang super duper mengejutkanku. Sebuah nama yang menjadi sebuah cerita di jejak langkah hidup ini.

Hanya lorong bus yang membatasi aku dengan Chatelia. Selama sejam lebih sejak berangkat dari Gajah Mada Jakarta kami tak bertegur sapa. Boro-boro tegur sapa, senyum pun tidak. Mungkin kami sama-sama jaim. Tidak! Aku hanya asyik dengan Jejak Langkah Pramoedya Ananta Toer. Dia asyik dengan dirinya. Sepertinya ia sedang berdoa kala itu. Aku lupa bagaimana kami memulai percakapan kami. Yang kuingat ia bertanya “Sering ikut retret?”.

Serentak suasana pun mencair. Kami berkenalan. Lalu percakapan panjang dimulai hingga tiba di Lembah Karmel, Cikanyere Jawa Barat. Sesekali kuamati rosario hijau di lehernya.

Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari science, sampai hal yang remeh temeh. Dalam hal ini ia memiliki kesamaan denganku. Kami sama-sama generalis. Lalu sampailah kami saling bertanya soal alasan pergi ke lembah Karmel. Rupanya, ia diajak Bundanya yang terlelap di sampingnya. “Mama yang ajak,” ia menoleh dan membetulkan syal bundanya. Chatelia dan mamanya berasal dari Semarang.

Tiba di Karmel, kami berpisah karena harus menempati kamar masing-masing. Di kamar, saya tidak sendirian. Ada dua teman lain yang menempati kamar yang sama. Lumayan, aku memiliki teman baru lagi.

Setelah sesi pembukaan retret, kami bertemu lagi. Kali ini, ia dengan ramah mengenalkan aku ke mamanya. Entah kebetulan, kami satu meja makan saat santap malam. Di meja makan ini kukenalkan dua teman baruku kepada Chatelia dan mamanya. Makan malam kami pun diwarnai cerita berpola tanya dan jawab. Kupikir, akulah yang paling banyak dilontari pertanyaan malam itu.

Praktis, karena suasana retret, kami jarang berbincang, kecuali di rehat sesi dan jam makan. Aku semakin mengenalnya sebagai gadis yang rajin berdoa. Di hari ketiga, hari terakhir, Chatelia mendatangi kamarku. Rupanya ia menagih janji, jika ada waktu sempatkan diri ke Semarang. Saya mengiyakan. Toh kan ada embel-embel ‘jika ada waktu’.

Beruntung, saat pulang dari Karmel, kami berada di bus yang sama lagi. Kemacetan arus balik Puncak-Jakarta tak begitu terasa. Hampir lima jam kami bergerak di antara padatnya kendaraan yang pulang libur dari Puncak. Dan jujur saja, aku sangat menikmati momen itu.

Tiba di Jakarta, kami berpisah. Aku memberikan banyak salam untuk teman-teman baruku. Sebagiannya untuk Chatelia dan mamanya. Tetapi sebelum benar-benar berpisah, ia lagi-lagi menagih janji. “Jangan lupa ya Kak, main-main ke Semarang.” Aku tersenyum. Selalu meyenangkan melihat seorang dara yang meletakkan hidupnya di lintasan doa. Akan kah aku ke Semarang? Wallahu A’lam!!!

Edward Wirawan

Share:

0 komentar