Gebrakan dari Tepi Luar

PADA 19-22 April mendatang, Pemuda Katolik akan menggelar Rapat Kerja Nasional (rakernas) di Nanga Bulik Lamandau Kalimantan Tengah. Beberapa pihak sempat bertanya mengapa di Lamandau? Mengapa tidak di tengah sorotan media kota Metropolitan saja? Toh, biar tambah terkenal gitu lho. Atau mungkin mencuri sedikit panggung popularitas Ahok, Hehehe. Tak ada penjelasan resmi, mengapa PP Pemuda Katolik memilih Lamandau sebagai lokus rakernas 2016.


Dari beberapa pertemuan saya dengan ketua umum Pemuda Katolik Karolin Margret Natasa dan sekjen Christopher Nugroho, saya pun mengerti mengapa Lamandau yang dipilih. Mungkin klise, tetapi spirit Lamandau adalah bagaimana kader Pemuda Katolik memaknai kembali visi dan misinya. Pro Ecclesia et Patria, Pro Bono Publico.
Kader Pemuda Katolik

Lamandau ingin menyampaikan pesan itu. Kader Pemuda Katolik tidak melulu antri di jalur politik tetapi di semua jalur kehidupan berbangsa dan negara, baik nasional maupun daerah. Maka tema rakernas pun menjadi relevan. “Menghadirkan Peran Pemuda yang Terampil di Tengah Umat dan Masyarakat Berbasis Desa Berdasarkan Pancasila.”

Dalam tulisan saya, laporan utama HIDUP edisi 02, Karol menegaskan pentingnya kader Pemuda Katolik berkiprah di desa sebagai kantong-kantong sekaligus central pembangunan. Selama ini kader cenderung bergerak ke tataran nasional dan meninggalkan daerah. Padahal membangun dari pinggir menjadi 'Slogan Presiden Jokowi'.

Pemuda Katolik tidak lagi utopis seperti di masa kekelamannya. Hal ini sejatinya sudah dimulai sejak era Bang Ucok dan Bang Gustaf. Pemuda Katolik era Karolin ingin membentuk kader yang berdaya sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan ladang karya. Pemuda Katolik Komda Palembang misalnya. Setelah lama tak terdengar gemanya, komda di rahim bumi Sriwijaya ini kini kembali bergaung. Gaungya bukanlah auman koar-koar kosong, tetapi tawa kegembiraan dari anak-anak muda korban Narkoba yang berlindung di rumah ‘Griya Anak Sayang’. – GAS adalah salah satu karya kader Komda Palembang yang merehabilitasi korban narkoba.
STTD Komda Bali

Di Gianyar, komda Bali membentuk Satuan Tugas Tanggap Darurat (STTD). Beberapa Komda lainnya juga melakukan hal-hal yang hebat. Era Karolin setidaknya ada regenerasi belasan Komda. Ini menjadi semacam antusiasme para Kader Pemuda Katolik untuk semakin meningkatkan diri dan berjuang dengan visi Pemuda Katolik.

Mendiang Tommy Legowo pernah memprovokasi kader Pemuda Katolik, “Jika ingin membersihakan politik yang kotor, maka tangan kita harus rela kotor.” Di sebuah momen lain seorang senior berpesan agar kembalilah pada jati diri organisasi. Jati diri itu adalah visi, semangat awal organisasi dibentuk.

Maka rakernas bertema “Desa” di Lamandau adalah perjalanan kembali ke jati diri itu. Kembali ke Pro Bono Publico. Kembali ke Pro Ecclesia Et Patria. Dan itu harus dimulai dari titik terluar Indonesia. Dimulai dari desa sebagai fondasi NKRI. Setiap penaklukan selalu dimulai dari tepi luar dan perlahan menggarami seluruhnya. Selamat bersiap mengikuti Rakernas para kader Pemuda Katolik. [E-One]

Selamat Datang di Lamandau Bumi Borneo!!

Tags:

Share:

0 komentar