GEMA dan Hukum Karma

DIKISAHKAN, Gema adalah seorang bidadari bumi yang jelita. Kecantikannya mungkin serupa dengan Medusa si wanita Yunani yang konon mengalahkan kecantikan Athena simbol kecantikan itu sendiri. Gema yang jelita konon bahkan sampai membuat para dewa mereguk air liur. Di seantero jagad raya, ia tidak mungkin tidak dikenali.

Kecantikan Gema adalah berkah sekaligus kutukan baginya. Kecantikan itu mendatangkan pujian yang membuatnya tak sadar diri harus bertingkah layaknya Dewi.  Tak hanya cantik, Gema memiliki suara yang sangat indah. Gema suka berdebat dan mempertentangkan hal yang bahkan sepele. Alhasil, ia selalu mendominasi pembicaraan.

Suatu hari, ia dikutuk oleh seorang Dewi bernama Diana karena dianggap "kelewat batas". Ia dikutuk untuk tidak bisa bicara, tetapi bukan bisu. Gema tetap bisa bersuara, hanya sebatas meniru suara orang lain.  Itu pun meniru bagian akhir dari sebuah suara. Kecantikannya pun mutlak menjadi kutukan.

Gema membawa kutukan itu ke manapun ia pergi. Gema pun menjadi penggoda para peziarah di gurun. Ia menggoda para pengembara di sela-sela gunung. Ia lakukan itu karena kerinduannya untuk berbicara.

Kutukan Gema tidak berhenti. Suatu senja di tepi sebuah hutan, ia melihat seorang pemburu. Ia terpesona dengan karisma sang pemburu. Wajahnya yang agung dan tampan menyimpan pesona mematikan.

Pemburu itu bernama Narsisius. Seorang pemuda yang meyakini dirinya sendiri sebagai yang terindah. Gema pun mengikuti pemuda itu. Tetapi apa daya, mulutnya tak bisa merayu. Ia tak bisa bicara. Kebingungan arah, pemuda itu berteriak, "Heyy siapa di sekitar sini?" Gema mengulang "Siapa di sekitar sini?" Setiap kali pemuda itu berteriak, hanya ulangan kata-katanya yang menjawab. Frustasi, Pemuda itu berteriak lagi, "Mari ke sini, aku kesepian, sendirian, aku rindu bersamamu"

"Aku rindu bersamamu" suara gema terdengar. Gema riang dan menangis, sebab ajakan itu yang dia tunggu-tunggu. Ia muncul dari balik pepohonan dan memeluk Pemuda itu dengan mesra. Apa daya, pemuda itu menolak. Pemuda itu tetaplah Narsisius yang menilai tak ada yang indah selain dirinya. Maka Gema yang jelita pun juga tak berarti bagi Narsisius. 

Gema yang ditinggal menjadi sedih, lara dan menjadi kurus kering tinggal tulang. Tulang-tulangnya berubah menjadi batu. Gema hidup sebagai SUARA YANG TERTINGGAL. Suara yang tidak bisa mengungkapkan keinginannya sendiri. Saya kapitalkan: SUARA YANG TIDAK BISA MENGUNGKAPKAN KEINGINANNYA SENDIRI.

Gema masih hidup hingga saat ini. Gema hidup dalam jiwa para pecundang seperti "Jude" dalam cerita lagu "Hey Jude" the beatles. Atau mungkin seperti "Gadis Gurun" dalam Alchemistnya Coelho. Iya, Gema masih hidup. Gema hidup di sekitar kita. Hidup dalam diri kita.

Gema bukanlah kesunyian tetapi serupa. Menyitir Aleandara Pizarnik tentang Kesunyian. Ia adalah ketidakmampuan untuk mengungkapkannya. Ia bukanlah sinonim dari sebuah landskap. Gema dan kesunyian adalah melodi yang patah dari sebuah kalimat yang lengkap atau jujur. Maka Gema mungkin pula bermakna "Kejujuran yang tak terucap. Rasa yang tak pernah bicara".

Menambahkan Coelho.
Ksatria Cahaya tidak selalu mampu mengungkapkan kebenaran, cinta dan cahaya. Meski begitu, ia tidak seperti Gema yang menghindar Surga dan membenci sang dewi pemberi kutuk.
Ksatria Cahaya, dalam segala pergumulannya selalu berserah diri kepada Sang Dewi Surga.

Tetapi Gema yang terkutuk itu mengajarkan sisi lain soal hidup. Soal sebab akibat, soal karma police (hukum karma). Apa yang kau teriakan, itu yang akan dipantulkan ke hidupmu. Jika kau berkata "Aku mencintaimu," maka kau akan mendapatkan jawaban "Mencintaimu". Mungkin kau bingung, karena tak tahu siapa yang mencintaimu. Karena hanya bagian terakhir yang kau dapatkan. Tetapi itu tidak mengurangi kenyataan ada orang lain yang mencintaimu. Gema mengingatkan kita tentang tabur tuai. Maka taburkanlah kata-kata dan kalimat damai sejahtera. Maka alam semesta ini akan memantulkan hal yang sama bagimu.

Dengan sangat indah Alkitab menulis; Perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin orang lain memperlakukanmu. Itulah Gema. Ia tetap cantik, indah, mempesona dan menjadi penghibur semesta ini. Gema yang sedih adalah orang-orang yang banal, jahat, laknat dan jahanam. Yang melontarkan kejahatan, sehingga dengan sangat terpaksa, atas dasar hukum keseimbangan, alam semesta ini melontarkan apa yang jahat juga.

Edward Wirawan




Share:

0 komentar