Hannibal Barca, Romawi dan Kemenangan Madrid atas Barcelona

TAK ada yang menodai Imperium Romawi seperti Hannibal Barca (274-183 SM). Sebagai peradaban, Romawi mungkin yang terbesar sepanjang sejarah sebelum modernitas lahir. Romawi beratus-ratus tahun menguasai Eropa, Asia dan Afrika. Segala bangsa takluk di bawah kekuasaannya. Di sela ratusan tahun itu, pemberontakan muncul di mana-mana. Tetapi balatentara Romawi berjubah merah yang masyur itu hampir tak tersentuh. Mereka bahkan seperti balatentara Surga. Itu dipertegas oleh Julius Caesar, konsul dan Jenderal Besar Romawi dalam semboyan Veni, Vidi, Vici (Saya datang, saya lihat, saya menang).

Mungkin Macedonia di bawah pimpinan Alexander Agung menyamai reputasi Imperium Romawi. Tetapi di jejak sejarah ada satu nama yang menjadi ‘noda’ Romawi. Ia adalah Hannibal Barca seorang Jenderal Kartago (Kerajaan yang terbentang dari Afrika Utara hingga Spanyol). Kartago, Syracuse, Makedonia dan Diadokhoi adalah segelintir kekaisaran yang bertahan di bawah ekspansi mondial Romawi.

Hannibal hidup saat Mediterania menjadi sentral pertemuan kekaisaran-kekaisaran besar masa itu. Namanya diabadikan dalam perang Punisia kedua, ketika ia menjadi yang pertama menginjakkan kakinya di tanah Italia dan nyaris ke kota abadi Roma, jantung kekaisaran Romawi. Langkah dan strategi tempurnya sangat heroik. Ia bersama balatentara raksasanya, kuda dan gajah perang menaklukkan pegunungan Alpen yang dingin. Strategi ini untuk menyerang Romawi langsung di jantungnya.

Nahas, dinginnya Alpen membunuh hampir setengah dari armada tempurnya. Tiba di Italia ia langsung memberi peringatan dengan sebuah pukulan mematikan di utara Italia. Serentak, Romawi ketakutan luar biasa. Adiknya kemudian menyusul dengan balatentara besar memasuki Italia.

Tetapi ada satu yang mengejutkan para ahli sejarah. Hannibal enggan menyerang kota Roma. Padahal, ia memenuhi segala syarat untuk menaklukkan Roma saat itu. Tak ada yang tahu mengapa. Adolf Hitler juga enggan membinasakan Inggris. Di awal 1940-an, kalau saja Hitler tidak mengutus jenderal besarnya Erwin Romel membuka front perang di Afrika Utara, front perang di Rusia, tetapi fokus menyerang Inggris, ia akan menguasai Eropa seribu tahun. Tak ada yang tahu mengapa. Yang ahli sejarah tak ketahui; Hannibal sudah mencapai batasnya.

Kemenangan Sia-Sia
Entahlah, hanya saja memang begitu adanya. Pada akhirnya, selalu ada kemenangan yang sia-sia. Kemasyuran Hannibal, kemampuan agitasi Hitler tetap akan ditertawakan leluhur Romawi dan para bangsawan Kerajaan Inggris Raya.

Kemenangan tipis Madrid atas Barcelona ahad lalu memang memberikan pesta besar bagi Madrid. “Akhirnya, setelah kalah 0-4, kami membalas 2-1.” Kita bisa mengamati lagi tawa puas Ronaldo dan Bale. Tetapi mungkin Madrid melakukan hal yang sama dengan Hannibal. Mengapa tidak dengan skor besar? Apakah mengalahkan Barca begitu sulit? Yang mungkin kita yakini; mengalahkan Barca sudah cukup, skor itu bonus.

Tentu, rentetan 39 laga tak terkalahkan sedikit banyak akan menciutkan nyali siapa pun. Barca nyaris serupa dengan Veni, Vidi, Vici, – nya Julius Caesar. Kalau saja tidak dikalahkan Madrid, saya mungkin akan tetap berpikir yang sama. Sebelum Barca bertanding saya mereka-reka siapa yang cetak gol, Messi berapa gol dan semacamnya. Saya berada pada tahap meyakini Barca datang, Barca main dan menang.

Rasanya, kemenangan Madrid hanya akan sia-sia jika di akhir musim Barca meraih treble. Kemenangan yang hanya diingat dalam momen-momen tertentu.Dalam momen ketika statistik menjadi hidangan pembuka di laga berikutnya.

Malam tadi, Barca memenangi pertandingan yang sedikit tak elok. Sebagai penggemar Barca, saya hakul yakin Barca mengalami penurunan performa. Mungkin karena  jedah internasional yang menguras energi atau mungkin juga repetisi kemenangan yang mulai membosankan.
Pada momen seperti ini, mereka yang anti kemapanan mulai bersorak. Mungkin mereka menyukai cerita Madrid memenangi liga Champions dan Atletico merajai La liga. Kami yang fans Barca? Tidak ada kecemasan. Posisi di La Liga relatif aman. Di Copa Del Rey Barca sudah di final. Di panggung Eropa, ada sedikit gangguan dari Atletico Madrid.

Pada momen seperti ini keabadian Messi dan Trio MSN yang juga abadi di dalamnya akan mengambil peran protagonis. Saya hakul yakin, si Bocah ajaib itu akan mengembalikan Barca di jalurnya. Jika dulu ia sendirian yang menerjemahkan permainanan, kini ada Suarez dan Neymar yang membantu. Praktis para gelandang Barca memiliki banyak solusi untuk menentukan arah serangan.

Pada momen seperti ini, Messi akan memeteraikan dirinya sebagai yang terbaik sepanjang masa. Serentak trio MSN diabadikan. Serentak Barca 2009-sekarang (dan mungkin nanti) juga diabadikan. Apakah benar demikian? Wallahu A’lam. (E-One)

Share:

0 komentar