KARTINI, HAWA dan MARIA

(E-One)

PADA mulanya adalah ADAM. Ia mulanya hanyalah boneka tanah yang kemudian diberi nafas Allah. Boneka tanah itu pun menjadi bernyawa dan hidup. Para malaikat sangat kagum dengan karya puncak Sang Raja Semesta Alam. Ia menjadi citra dan gambar Allah. Nafas yang ditiupkan kepadanya adalah nafas Allah. Sungguh mulia Sang Adam.

Dari semua ciptaan Allah, Adam tampak spesial. Tetapi ia berteman sunyi yang memperanakan kesepian. Allah sadar, ada yang salah. CiptaanNya itu tentu membutuhkan penghapus kesepian. Atas kehendak Allah, bertiuplah angin sepoi-sepoi. Angin itu membawa kantuk yang luar biasa. Untuk pertama kalinya, Adam tertidur.

Dalam tidur yang lelap itu, Allah mengambil rusuknya dan menutupnya dengan daging. Dari bahan Adam, Allah menciptakan Hawa. Allah memberikan nafas kepada Hawa. Ia cantik mempesona. Seperti ketampanan Adam, kecantikan Hawa juga menjadi gambar Allah.

Lalu terjagalah Adam. Matanya memandang Hawa. Saat itu juga lenyaplah kesepian Adam. Adam pun memahami, kesunyian dan kesepian adalah dua hal yang berbeda. Kesepian adalah ketidakmampuan untuk tidak bersama yang lain. Kesunyian adalah kemampuan untuk memahami orang lain lebih penting dari dirinya.

Saat awal, baik kesunyian maupun kesepian ada pada Adam. Kesunyian; Adam tidak protes karena tahu ada yang lebih penting di luar dirinya, yakni ciptaan Allah yang lain. Kesepian, Adam tidak mampu untuk menjalani kesunyian sendirian. Ia membutuhkan yang lain.

Dua hal inilah yang menjadi dasar Allah memberi kuasa kepada Adam dan Hawa. Kesadaran mereka akan kesunyian, akan pentingnya ciptaan Allah yang lain memberikan mereka jalan untuk berkuasa. (Kekuasaan mungkin adalah menyadari pentingnya yang lain, bukan diri sendiri). Kesadaran mereka akan kesepian memberi mereka kekuatan untuk mencari yang lain.

Maka terlepas dari tragedi saling menyalahkan ketika mereka jatuh dalam dosa, Adam dan Hawa dengan sadar akan kesepian memutuskan untuk sehidup semati.
Hawa adalah penolong yang sepadan bagi Adam.

Pernah suatu sore di sebelah Timur taman Eden, paska pengusiran mereka, Adam sambil memeluk Hawa, berujar sebuah kalimat indah sepanjang masa. “Siapakah aku tanpamu”. Sebuah thesis yang menjadi sumber ide para sastrawan setelah Adam.

Dengan meyandarkan diri pada dada Adam yang bidang, Hawa menjawab manja, “Engkau adalah alasan aku ada.” Sebuah thesis lain yang menjadi sumber jemari penyair menari.

Percakapan Adam dan Hawa yang begitu romantis itu, konon bahkan membuat iri para malaikat. Di tengah prahara keterusiran mereka dari Eden sekalipun mereka tetap terpaut satu dengan yang lain. Hawa adalah gelap yang serentak juga terang. Thesis inilah yang ribuan tahun kemudian diulang oleh KARTINI, “habis gelap terbitlah terang.”

Di tengah penghakiman sepanjang masa yang tak adil, “Perempuan asal muasal dosa,” Kartini lagi-lagi mengingatkan akan pentingnya Perempuan bagi laki-laki, Hawa bagi Adam. Pentingnya perempuan dalam sejarah peradaban dan keselamatan.

Kartini adalah pengingat tentang arti penting perempuan. Sebuah lonceng yang mengingatkan kita pada ketidakmampuan laki-laki berkuasa tunggal menata dunia dan kehidupan.

Dalam 28 tahun ziarah hidupku, aku akhirnya merombak total thesis itu dan mengajukan sebuah versi baru. “Perempuan adalah penyelamat laki-laki.” Sejarah keselamatan berubah haluan. Perempuan yang dihakimi dari abad ke abad kini dimuliakan dari masa ke masa.

Oleh perempuan bernama MARIA, keselamatan datang ke dalam dunia. Ia bukanlah keselamatan itu tetapi ia menjadi sebuah syarat tunggal datangnya Sang penyelamat. Maria adalah puncak utuh makna pentingnya perempuan bagi alam semesta. Maria adalah Kartini alam semesta.

Perempuan begitu megah, indah dan menjadi kidung zaman. Perempuan; Ibu, saudari, pasangan kita adalah Kartini, Hawa dan Maria. Tanpa mereka kau hanyalah Adam yang sunyi senyap dan berakhir sepi. Kau hanyalah boneka tanah dengan nafas Allah tetapi takkan membuat Malaikat iri. Perempuan menjadi tonggak keselamatan. Menjadi terang yang menghalau kegelapan kita. Perempuan menjadi Rahim datangnya harapan dan keselamatan.

Dan untuk Kartini, Hawa dan Maria:

Inilah yang tak terbantahkan.
Engkau membawaku pada wajah Allah.
Jalan kembalinya aku pada sumber nafasku.
Engkau yang kuhujat di hadapan Allah
Menjelma menjadi bahan mazmur pujianku.

Padamu, aku melihat surga.
Di rahimmu aku merasakan kerahiman dan belaskasih.
Setiap dosaku kepadamu adalah pengingkaranku kepada Allahku.
Maka, ampunilah aku.

Edward Wirawan
Lamandau, 21 April.
Ditulis dengan inspirasi Kartini lain yang menghalau kesunyianku.


Tags:

Share:

2 komentar