MINORITAS KREATIF PENYELAMAT PERADABAN

SEJARAHWAN Inggris, Arnold Toynbee menulis: Di tengah pasang surut keadaan manusia, yang menyelamatkan peradaban manusia adalah minoritas kreatif (A Study of History 2004). Quote agung Toynbee muncul dari ulasan metahistory peradaban tentang kemunculan, pertumbuhan dan kehancuran peradaban.

Minoritas Kreatif adalah mereka yang memiliki idealisme dan kecerdasan untuk berpikir panjang dan luas mengenai masa depan. Coelho secara tersirat mengungkapkan bahwa minoritas kreatif adalah mereka yang memiliki gen cahaya dalam dirinya. Mereka disebut sebagai para Ksatria Cahaya (Kitab Suci Para Ksatria Cahaya).

Sejak awal mula peradaban ada, sejak saat itulah lahir minoritas kreatif itu. Pelajari budaya mesopotamia, peradaban Hindu-Budha dan peradaban lainnya. Tapi bicara sejarah yang sudah 'usang' itu, rasa-rasanya tidak relevan. Saya pernah diceritakan; tak terlalu bagus membandingkan dua sudut yang berjauhan. Mari kita mulai dari sejarah Uni Eropa.

Setelah perang dunia II, daratan Eropa seumpama pinggiran neraka. Hancur berantakan. Winston Churchill perdana menteri Inggris bahkan menyebut, bahwa kemenangan sekutu adalah satu hal, berakhirnya perang dan matinya Hitler satu hal lain. Dan kehancuran Eropa adalah hal-hal. Jenderal Erwin Romel, seorang genius besar dalam perang dunia II yang bertempur di Afrika, saat kembali ke Eropa berkata kepada seorang perwiranya, “Setidaknya dosa saya hanya ada di Afrika.” Romel tiba di Berlin, sebulan sebelum Sekutu memborbardir Jerman. EROPA hancur dan menjadi hal-hal.

Dalam kehancuran itu, ribuan puisi dan karya sastra lahir sebagai lagu ratapan. Sinopsisnya adalah ini akan menjadi seperti Romawi yang mati dan tidak pernah hidup lagi. Ernest Hemingway misalnya menulis, ”Dan senantiasa kudengar deru kendaraan perang bersayap waktu mendekat..., dan kematian (A farewell to Arms). Boleh dikatakan Eropa dihinggapi pesismisme. Seperti Romawi yang gagal dan Napoleon Bonaparte yang mati binasa, Eropa tidak akan pernah bersatu. Bukan hanya sastrawan, para musisi juga ramai-ramai meratapi dalam lagu bernada pesimisme.

Dalam kegelapan itulah, minoritas kreatif bernama Robert Schuman muncul. Ia adalah seorang warga negara Perancis. Pada 9 Mei 1950, ia membuat suatu presentasi awal mengenai kebersamaan perdagangan dan dana Eropa. Presentasi Shuman, menarik perhatian beberapa delegasi negara-negara Eropa saat itu. Selanjutnya, Robert bersama beberapa tokoh lain dari berbagai negara di Eropa mulai menggagas dan membentuk Masyarakat Ekonomi Eropa. Dalam perjalananya, lahirlah Uni Eropa seperti yang kita kenal saat ini.

Komunitas kreatif lainnya adalah “Sisa Israel”. Setelah pembuangan ke Babilonia dan terserak ke seluruh ujung bumi, kini bangsa Israel kembali ke rumahnya. Proses kepulangan mereka tidaklah mudah. Gelombang penolakan muncul di mana-mana. Ada ketakutan terhadap kualitas Israel. Di mana pun mereka berada, mereka mampu survival dan menjadi kuat. Lihat saja “anti semit” di Eropa.

Munculnya anti Semit ini karena di manapun Israel ada, mereka akan “menguasai” tempat mereka berada. Kita tidak perlu mempersoalkan, mengapa begitu. Kita hanya perlu memahami bahwa begitulah adanya. Di Persia, Israel melalui Mordekhai dan Ester mengendalikan negeri itu. Di Babilonia, siapa yang didengarkan Nebukadnezar? Di Eropa, siapa para pemikir, ahli ekonomi kenamaan? Ada Israel di dalamnya.Maka anti semit itu kemudian muncul karena kualitas Israel.

Keluarga Rothschild adalah sebagian dari komunitas kreatif, sisa Israel itu. Mereka memiliki idealisme Abraham dan nenek moyang mereka. “Idealisme tanah terjanji.” Dalam sebuah dokumen rahasia, Rothschild senior menulis, “Sekalipun kalian menguasai dunia, kalau tidak kembali ke tanah leluhur kita, maka sia-sialah dunia yang kalian kuasai itu.” Semangat, idealisme akan apa yang perlu diperjuangkan, menjadi semangat bagi Sisa Israel untuk kembali.

Yahzek, seorang kolonel dalam divisi tempur utama Israel dalam catatan hariannya menulis, “Aku ini seorang perwira dari bani Yehuda. Meski aku enggan membunuh, tapi api dalam diriku mewajibkan aku untuk membunuh. Api itu adalah hak saya sebagai bagian dari ras, bangsa dan suku, hak saya untuk memiliki negara, dan yang paling besar, hak saya memperjuangkan idealisme nenek moyang saya. Idealisme tanah terjanji, pemenuhan janji Allah atas kehidupan kami, sebagaimana berlaku juga atas orang-orang Arab ini yang baru saja kulindas tank-tanknya.”

Bagi saya, mereka ini adalah komunitas kreatif yang menjamin kelangsungan peradaban mereka. Mereka inilah yang memiliki cita-cita, gagasan untuk kehidupan peradaban dan kehidupan mereka ke depan.

Di Indonesia

Beberapa bulan lalu,  dua orang dosen dari UGM sedang mengadakan penelitian di Jakarta. Kami bertemu di Kalibata City, lalu bercerita banyak hal. Seorang yang lebih senior dengan lugas mengatakan, bahwa basis intelektual adalah syarat bagi kemajuan suatu bangsa. Ia mengungkapkan, intelektual bukanlah anjing, tapi harus menjadi kafilah. Anjing adalah mereka yang cuap-cuap tanpa memiliki kekuasaan atau power untuk menentukan kebijakan. Power dalam hal ini, bukan tentang kekayaan atau jabatan semata, tapi juga pada kualitas intelektual yang konstruktif. Indonesia kehilangan itu, para akademisinya banyak yang kopi paste, akhirnya mahasiswanya juga begitu. Ketika seorang pengkader goblok, maka yang dikader juga goblok. Jadi, intelektualitas harus menjadi fondasi. – begitu kira-kira sinopsis percakapan kami saat itu.

Dipikir, itu sejalan dengan konsep minoritas kreatif ala Toynbee. Idealisme, gagasan, cita-cita dan padanan lainnya, merupakan ciri khas minoritas kreatif. (Kita bisa pilah, siapa dan apa saja minoritas kreatif di Indonesia).

Di negara ini, banyak juga minoritas kreatif. Tapi lebih banyak minoritas destruktif. Mereka adalah kumpulan orang-orang yang tidak memiliki gagasan, idealisme atau pun cita-cita bagi negara. Mereka adalah yang berjiwa iblis dan antipati pada pluralisme. Mereka adalah para koruptor yang memberi makan anak-anaknya dengan uang memalukan itu. Mereka adalah (tambahkan sendiri)-E-One

Share:

0 komentar