Paradoks I


MUNGKIN yang puitis, yang menyayat hati adalah yang paradoks. Paradoks lebih mengguncang dari sebuah tragedi. Jika tragedi hampir pasti bukanlah kesedihan semua pihak – karena teroris tak bersedih paska mengebom – , paradoks mendapatkan dukungan total. Semua orang sepakat terhadap hal yang paradoks misal “Semakin meninggikan diri semakin direndahkan”, “Semakin tinggi pohon, semakin keras tiupan angin”. (*Paradoks OBAMA menjadi Presiden AS, lebih megah dari tragedy WTC – Yang sama, keduanya cenderung abadi*)

Leicester City bisa jadi paradoks sepakbola. Sebuah kenyataan, penjelasan tak ada yang baku dalam semesta ini. Sebuah pesan, belum tentu Barcelona memenangi treble lagi musim ini. Paradoks hadir dari masa ke masa untuk menjelaskan hukum pertentangan, kontradiktif alam semesta bahkan Tuhan.

Allah sendiri adalah paradoks. Rasul Paulus dengan sangat indah menulis Tuhan yang paradoks itu. “Jika aku lemah, maka aku kuat”. Sekilas ini adalah kalimat bodoh. Tetapi Paulus menjelaskan dengan sangat indah lagi. Karena aku lemah, maka Tuhan yang kuat menolongku sehingga aku kuat. –Hanya orang sakit yang membutuhkan tabib – begitu pula Tuhan terhadap orang lemah. Di nas lain, Paulus lagi-lagi menulis: Adapun aku yang sekarang bukanlah aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Paradoks!!!

Leicester (meski belum juara) jelas sebuah paradoks di era industri sepakbola. Jika belasan musim terakhir, kita dengan mudah menebak tim-tim mana yang juara, musim ini kita (mungkin akan) salah. Leicester yang paradoks itu membuat mulut para pengamat bola GENIUS dari Indonesia menjadi salah untuk pertama kali. Semua salah, kecuali seorang pria miskin di kota Leicester yang dari awal bertaruh; Leicester juara.

Mungkin AHOK juga akan menjadi paradoks. Jika ia menang itu adalah paradoks. Toh walau kita tahu kita menganut demokrasi, politik kita adalah politik identitas (suku, agama, ras dan golongan). Demokrasi kita adalah kesewenangan mayoritas – untuk meminjam istilah John Adams; Demokrasi sebagai Tirani Mayoritas. Maka kemenangan Ahok  yang (minoritas segala sesuatu kecuali dirinya – pribadinya sendiri) adalah paradoks.

Bukankah itu menjadi kemenangan yang sangat PUITIS? AHOK dan LEICESTER akan menjadi bait pelengkap ‘gita puitis’ semesta alam yang paradoks ini. Atau bagaimana kita menilai ini: “Di dalam keramaian aku masih merasa sepi”. Bukankah itu paradoks dan juga puitis? Maka kemenangan Ahok (nanti) akan membuat sepi mereka yang mayoritas yang berpaham tiran itu. Itu juga sangat puitis kan?

Paradoks yang lain: Kita begitu dekat, tetapi sangat jauh. Paradoks semacam ini didapat ketika misalnya, saya ngopi bareng dengan Maria Harfanti. Maka Puisi harusnya lahir dari semua yang paradoks bukan tragedi.

Paradoks adalah tentang HARAPAN. Tentang segala sesuatu ada lawannya. Tragedi adalah ketiadaan HARAPAN. Mungkin yang ada di kepalaku saat ini adalah yang paradoks. Sebuah harapan untuk merawat kenangan. E-One
*Catatan di sela deadline, menuju libur Paskah tanpa THR. Hari raya tanpa THR juga sebuah paradoks.


Tags:

Share:

0 komentar