Pleonastis Bumbu Rutinitas

So I can not speak, I've lost my voice, speechless and redundant. Itu penggalan lirik lagu Green Day berjudul Redundant. Kata redundant bisa diartikan sebagai sesuatu yang berlebihan, pleonastis. Ciri khas manusia - suka melebih-lebihkan. Tetapi pleonastis bukanlah kesombongan. Ia persis lawan dari suka mengurangi. Ia versi lain dari ketidakpuasan, gamblang dan hasrat untuk menyatakan sesuatu secara serius.

Itu perlu, walau kadang diartikan gombal, lebai, dan padanan lainnya. Tetapi pleonastis tidaklah seburuk itu. Pleonastis adalah kegamangan. Bisa juga ketidakmampuan akal untuk menyatakan secara proporsional. Pleonastis, kembali ke hasrat, merupakan 'keinginan' menyatakan sesuatu, tapi tidak tahu caranya. Ketidakmampuan untuk lugas.

Saya ingin seperti Joko Pinurbo. "Tuhanku yang merdu, dengarkanlah kicauan burung di kepalaku." Ini tidak berlebihan. Tapi magis puitisnya meluluhlantakan bukan? Pleonastis agak jarang ditemui dalam sastra yang jujur. Tapi sering juga ditemukan

Di ranah silat lidah para politisi, ia adalah kenormalan. Kita hampir tidak menemukan politisi (politikus?) Yang tidak memiliki hobi 'melebih-lebihkan'. Pleonastis hanyalah konsep. Lebih tepatnya penghubung antara ide, visi semu dengan tindakan yang tidak ada. Ini barangkali defenisi pleonastis yang sesungguhnya!!

Tapi malam tadi menyaksikan sepasang kekasih di Ismail Marzuki, berpegangan tangan, dengan langkah yg santun, itu juga pleonastis. Kenapa? Karena persis di luar Tugu TIM, mereka berakhir untuk waktu yg tak tentu. Yang kuingat, pernah kukutuk mereka "Abadilah kalian". Persis ketika tangan mereka merangkul semakin erat. Kukutuk lagi, "Abadikan kami juga."

Rupanya aku berlebihan, pleonastis juga saat itu. Tapi memang begitu adanya, karena kita hidup di pengulangan. We are living in repetition. Berhadapan, menjalani hal yang barangkali sama. Menjenuhkan? Pasti.

Rutinitas itu butuh bumbu, namanya pleonastis. Kita perlu menambahkan sedikit gula pada kopi pahit yang biasa kita minum. Kalau tidak kau lupa 'nikmatnya kopi' itu.
Selamat MORNING. Meminjam dari seorang penyair besar Indonesia (Jokpin) yg tidak pleonastis. Tidak peduli besar kecilnya hasil, tetap kita rayakan dengan secangkir kopi.
Edward Wirawan



Share:

0 komentar