Ziarah Panjang Majalah HIDUP

MASA Hidup kami tujuh puluh tahun, dan jika kami kuat, delapan puluh tahun.” Kutipan Mazmur 90:10 ini menjadi refleksi A. Margana, pemimpin redaksi (pemred) Majalah HIDUP dalam tulisan “Berjuang untuk Setia Datang,” Edisi khusus 70 Tahun (Edisi I 2016). Ditemui di ruang kerjanya di Batusari Kebun Jeruk, Kamis 14/1, ia berbagi cerita soal jejak panjang Majalah HIDUP.

Majalah HIDUP bermula pada tahun 1940. Kala itu, Paroki Katedral mengeluarkan warta paroki Kerkelijk Weekblad (KW) setebal delapan halaman untuk mengkomunikasikan informasi gereja kepada umat. Warta paroki itu menggunakan Bahasa Belanda. Pada 1943, KW berubah nama menjadi De Kathedral.

“Pada masa itu, umat kita banyak yang berbahasa Belanda. Bahasa Indonesia belum populer,” ujarnya. Dalam rentang waktu 1940-an, cikal bakal Majalah HIDUP itu beberapa kali berganti nama dan ketebalan halaman. Para pastor Jesuit menyadari pentingnya media komunikasi gereja. Mereka pun serius menangani media pastoral ini. Pada 1946, majalah HIDUP mulai hadir setiap minggu dengan nama kembali ke KW. Tanggal 5 Januari 1946 kemudian diperingati sebagai hari lahir Majalah HIDUP.

Sejak saat itu, HIDUP terbit secara berkesinambungan. Pada 1948, berganti nama lagi menjadi Katholiek Leven. Nama itu kemudian diganti dengan Bahasa Indonesia HIDUP Katolik pada 1957. Pada 5 Juli 1970, Pater Knooren SJ, mengubah nama HIDUP Katolik menjadi HIDUP hingga saat ini.

Atas jejak panjang pengabdiannya sebagai media, HIDUP diganjar penghargaan oleh Museum Rekor Indonesia (Muri) dan Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (Leprid). Penghargaan ini diberikan sebagai Majalah yang secara berkesinambungan dan konsisten terbit setiap edisi. Pada 1965, ketika Gerakan 30 September terjadi, HIDUP merangkap dua edisi dalam satu majalah. Keputusan itu karena kondisi Indonesia yang kacau dan serba tidak pasti. Hal yang sama terjadi pada 1992. Demi pembenahan internal, HIDUP merangkap sekitar edisi dalam dua majalah. “Jadi kita dihitung tetap berkesinambungan, tidak mati dan tidak pernah berhenti,” ujar Margana. Di Indonesia, hanya majalah Panjebar Semangat yang berusia lebih tua dari HIDUP.

Rekor Muri
Media Pastoral
Sejak awal kelahirannya, Majalah HIDUP memiliki visi sebagai sarana pastoral untuk menambah pengetahuan kekatolikan dan memperdalam iman, khususnya keluarga Katolik. Dengan visi seperti itu, rubrik-rubrik Majalah HIDUP hadir dalam nuansa rohani Kekatolikan.

Dalam perjalanannya, majalah HIDUP terus berkembang menjadi media pastoral umat. Dari tahun ke tahun, jumlah tiras (oplah) dan pelanggannya bertambah. Pada era 1980-an, HIDUP memasuki periode keemasan dengan jumlah tiras mencapai 35.000 eksemplar. Namun lazimnya seperti media lain yang terkena dampak munculnya media berbasis teknologi digital, HIDUP mengalami penurunan tiras yang lumayan signifikan. Sekarang ini, HIDUP mencetak sekitar 13.000 -15.000 eksemplar per-edisinya. Setiap tahun ada 52 edisi yang diterbitkan.

Meski media pastoral, majalah HIDUP tetap didesain berdasar asas jurnalistik. Konten dan tema majalah berkisar pada warna Iman Katolik. “Tentu saja, tema harus aktual, menarik.” Selain penjualan, HIDUP mendapatkan pendapatan dari iklan yang umumnya berasal dari Iklan ziarah. Kini dengan tampilan baru, iklan semakin beragam. Pelanggan HIDUP berkisar pada angka 10.000. Tidak seperti media lain, HIDUP mengelola sendiri pelanggan tanpa melalui agen.

Pada 2010, Margana ditunjuk yayasan menjadi Pemimpin Redaksi. Bekal pengalaman sebagai redaktur majalah TEMPO membuatnya paham, bagimana media bekerja. Ia pun mulai mengubah tampilan HIDUP menjadi lebih menarik. Kertas koran diganti dengan kertas yang lebih cerah. Tagline di bawah tulisan HIDUP “Mingguan Umat Beriman” menjadi lebih terus terang, “Mingguan Katolik”. Majalah HIDUP pun semakin menarik, lebih handy dan secara bisnis lebih menghasilkan. “Semakin menarik, banyak orang akan memasang iklan.”


Mgr Ignatius Suharyo memotong pita dalam acara syukur 70 tahun HIDUP
Pemred Awam 
Margana bukanlah satu-satunya awam yang pernah menjadi pemred HIDUP. Edmon Monteiro pernah menahkodai redaksi HIDUP dalam kurun 1974-2000. Selain pemred, awam juga mendapatkan ruang sebagai pemimpin umum, misal Raymond Toruan, A Margana dan sekarang ini Kristophorus Kristiawan.

Keterlibatan Awam ini merupakan keinginan Keuskupan sebagai pemilik untuk menjalankan HIDUP secara profesional. Sebagai pemred, Margana mrefleksikan tugasnya ke dalam tiga bagian.

Pertama, Fungsi jurnalistik. Majalah HIDUP dikelola sebagai media jurnalistik profesional. “Kriteria-kriteria jurnalistik kita pakai semua, baik bentuk visual, kemasan, aktualitas. Kita mengacu pada jurnalistik. Kita buat dalam bahasa lebih sederhana yang menjangkau semua lapisan umat,”

Kedua, Isi majalah sebagai media pastoral, meningkatkan iman dan pengetahuan Kekatolikan. Ketiga, menghidupi bisnis media. Tujuannya supaya tetap mandiri dan bergerak sebagai media pastoral umat. Target bisnisnya adalah untuk menghidupi diri sendiri, survivalitas majalah, bukan untuk mendapatkan keuntungan besar sebagaimana media umum. “Tujuan pastoral kita adalah menjangkau pembaca. Karena itu kita tidak mencari keuntungan melalui penjualan dengan harga mahal,” tegasnya.

Margana menambahkan, konsumen media di Indonesia tidak suka membaca. “Orang Indonesia lebih suka mendengar radio, menonton televisi dan interaktif via internet. Kita perlu membuat majalah HIDUP menarik,” tegasnya. Terkait statusnya sebagai awam, ia menjelaskan, redaksi domainnya profesional, bukan domain para pastor. Kehadiran pastor, secara bertahap mulai dilepaskan. “Keuskupan ingin mengelola secara profesional,” ungkapnya.

Oase Iman
Beberapa pelanggan berkenan berbagi kesan kepada penulis. Michael Utama Purnama misalnya. Ia mengenal HIDUP sejak 1957, kala duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar St Yoseph Surabaya. Karena ada mata pelajaran Bahasa Belanda, ia pun sering menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah. Lalu ia berlangganan.

Dari keinginan hanya untuk belajar Bahasa Belanda, Michael kecil merasa semakin tertarik membaca majalah HIDUP yang mulai hadir dalam versi Bahasa Indonesia. “Hidup menulis soal Vatikan, soal Misa di Jakarta, dan saya antusias membaca,” kenang mantan Direktur PT Gudang Garam ini.

Selama lebih dari setengah abad ia berlangganan, ia bercerita, wajah Majalah HIDUP berubah namun semakin menarik. Penyuka makanan rujak ini mengaku, HIDUP menjadi  inspirasi iman baginya. Michael memiliki beberapa rubrik kesayangan, misal Konsultasi Iman, Kesaksian dan Santo Santa. Menurut dia, materi yang diberikan oleh Romo Petrus Maria Handoko dalam Konsultasi Iman begitu menarik dan mudah dicerna. “Itu evangelisasi yang betul-betul menyentuh, mudah untuk kita pahami.”

Sementara untuk rubrik Santo Santa dan Kesaksian, ia mengungkapkan sebagai sumber kekuatan dan iman. Sebagai pebisnis, Michael mengatakan butuh keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Baginya majalah HIDUP menjadi Oase Iman yang menjadi penyejuk di guru kehidupan yang tidak menentu.

Senada dengan Michael, Danu Elisabeth mengakui, majalah HIDUP menjadi sumber kekuatannya. “Kalau nggak baca HIDUP, rasanya ada yang hilang,” ungkap wanita yang menjadi pelanggan sejak 1982 ini.

Pernah suatu ketika, ia pindah ke Filipina. Seminggu ia di sana, ia merasakan ada yang tidak lengkap. Ia pun menyadari, majalah HIDUP yang menjadi bacaan hariannya tertinggal di Jakarta. Sejak saat itu, ia meminta saudaranya untuk mengirimkan majalah HIDUP ke Manila. Kadang jadwal pengirimannya tepat waktu, lebih sering tidak.

Pada 1992, ia kembali ke Indonesia. Sejak saat itu ia tidak pernah ketinggalan waktu untuk menyantap sajian rohani dari Majalah HIDUP. Wanita berusia 84 tahun ini merinci beberapa rubrik favoritnya. “Sejatinya, semua rubrik itu saya baca. Tetapi santo Santa, Kesaksian, Konsultasi Iman, Eksponen, Apa dan Siapa serta Cerpen, menjadi kegemaran saya,” tutup wanita berusia 84 tahun ini.
Menjangkau Yang Muda
Marcellina Chrisella, mahasiswi Akutansi Universitas Parahyangan Bandung sudah berlangganan HIDUP sejak 2012. Awal ia mengenal HIDUP karena gemar membaca. Suatu hari, di atas meja ruang tamu, ia mendapati majalah HIDUP. Lantas ia membaca. Sejak saat itu ia berlangganan majalah HIDUP. Hidup sebagai remaja, di dunia kaum muda yang dinamis di bumi Pasundan yang bermayoritas Islam membuat Chrisella, demikian ia disapa membutuhkan penyeimbang.

Chrisella merasa, rubrik-rubrik HIDUP menjadi inspirasi dan penguat iman. Selain itu juga memberi pengetahuan baru tentang gereja dan iman. Di waktu sengganngnya ia membaca HIDUP. Rubrik Teropong menjadi favoritnya, karena memberikan inspirasi untuk melakukan banyak hal positif dalam kehidupan sosial dan politik.

Meski demikian ia menilai HIDUP terkesan sebagai majalah Orang Tua. Ia tidak yakin, setiap kalangan muda membaca majalah HIDUP. “Sepertinya, HIDUP harus tampil lebih muda lagi,” ungkap dara kelahiran Bandung 9 April 1994 ini.

Cerita Chrisella tidak salah. Berdasarkan survei tahun 2009-2010 oleh lembaga Survey MARS, HIDUP terkesan sebagai majalah “Orang Tua”. Berdasar Survey itu, HIDUP berbenah. Beberapa rubrik mulai memunculkan ‘karakter’ muda. Tidak cukup dengan itu, HIDUP membuat majalah khusus untuk anak-anak, yaitu Cathkids.

Majalah ini lahir atas permintaan Mgr Ignatius Suharyo supaya membuat media pastoral khusus anak-anak Sekolah Dasar. Kini di usia keduanya, Cathkids mulai melibatkan anak-anak dalam proses penulisan, menggambar dan wawancara. Media Pastoral anak ini sangat penting sebagai fondasi iman anak-anak Katolik agar tumbuh semakin dewasa usia, semakin dewasa dalam iman. Ini menjadi majalah di mana anak-anak terlibat berkarya.

Pentingnya keterlibatan anak lahir dari cerita Mgr Suharyo. Suatu hari ia mendatangi sebuah rumah singgah. Lalu pembimbing Rumah Singgah mengumpulkan anak-anak, mematikan semua lampu, hanya sebuah lilin yang menyala. Di tengah kegelapan dengan modal cahaya lilin itu, sang pembimbing meminta anak-anak menulis atau menggambarkan apa yang dirasakan dan dipikirkan. “Keterlibatan anak-anak membuat mereka bisa menghayati iman atau maksud dari keterlibatan mereka dalam karya,” ungkap A Margana meniru Mgr Suharyo.
Edward Wirawan

Share:

0 komentar