Pulau Buru: Cerita Yang Tak Selesai

Pulau Buru merupakan salah satu titik kisar sejarah Indonesia. Pulau ini adalah saksi bahwa Indonesia pernah dicakar sejarah. Pulau ini juga menjadi saksi pembaptisan lebih dari 8000 tahanan politik. (Tulisan ini, adalah sajian utama majalah HIDUP edisi 39 tahun 2015. (BACA: (Pembatisan Senyap di Pulau Buru) - Di sini saya ubah sedikit untuk alasan memperindah tubuh tulisan.


Beberapa buah kapal pengangkut sapi di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya melepas sauh dan berlayar ke Pulau Buru. Di geladak atas kapal-kapal itu tampak sejumlah tentara. Mereka bertopi koboi dengan senjata laras panjang digendong di punggung. Ada juga tentara yang menenteng senjata di tangan. Beberapa orang tampak bergurau dengan asap yang mengepul dari mulut.

Mengapa pasukan tentara mengawal kapal pengangkut sapi?
Ternyata muatan kapal bukanlah sapi tetapi para Tahanan Politik (tapol) peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Mereka dibuang ke Pulau Buru dengan dalih  menjaga kewibawaan pemerintah Orde Baru, pancasila dan UUD 1945.

Cerita itu sampai ke telinga Romo Werner Ruffing SJ. Romo dari Jerman ini telah lama memendam hasrat untuk berkarya di dunia komunis Uni Soviet (baca Rusia). Hasrat itu lahir dari sejarah keberadaan Jesuit di Uni Soviet yang tetap utuh meski pada 1733 di seluruh dunia dibubarkan sesuai titah Paus Clement XIV. Romo Ruffing ingin membalas budi baik Uni Soviet tetapi tak pernah diijinkan masuk negeri 'Tirai Besi' itu. Karena kesempatan membalas budi baik Uni Soviet tidak pernah datang, Romo Ruffing pun mencari negara yang dipengaruhi komunis. Dengan semangat balas budi, ia datang ke Indonesia, walau G30S PKI tidak berkiblat ke komunis Uni Soviet kala itu.

Pada 1973, Romo Ruffing mulai berkarya di Pulau Buru. Kehadiran Romo Ruffing diterima dengan baik oleh para aparat di Pulau Buru. Di Pulau Buru di antara sepatu boot dan bedil tentara Divisi Pattimura, Romo Ruffing menjalankan misi kemanusiaannya. Ia merawat yang sakit, menghibur yang putus asa dan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada mereka. Tetapi tumpukan masalah antara Romo Ruffing dengan para aparat membuat ia, pada 1976 diusir. Romo Ruffing mencari tahu, barangkali ada pastor Jesuit yang mau berkarya di Pulau Buru.

Upaya Romo Ruffing berhasil ketika ia bertemu dengan Romo Alex Dirja SJ. Saat itu, Awal 1977, Romo Alex baru saja pulang dari India mengikuti kursus Maxi Sadhana dari Anthony de Mello. Romo Alex dengan gembira menerima tawaran Romo Ruffing. Tahun itu juga ia berangkat ke Pulau Buru “Saya sangat senang bertualang. Jadi tawaran itu saya terima dengan sangat senang,” kenang Romo kelahiran 24 Februari 1938 ini.

Surga Atau Neraka
Sawah di Pulau Buru

Dengan modal Surat Jalan dari Jenderal Sudomo yang menjabat sebagai Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), Romo Alex dengan mudah bisa mendekati para perwira yang bertugas di Pulau Buru. Saat tiba di sana, seorang Perwira berpangkat Kapten menceritakan kepadanya, bahwa tapol berjumlah 18. 222 orang dengan 400 orang di antaranya beragama Katolik.

Romo Alex bercerita, para tapol ditempatkan ke dalam 20 unit. Setiap unit terdiri dari kurang lebih 800 orang. Masing-masing unit  diberikan lokasi untuk dikelola menjadi hunian dan ladang. Kepada Romo Alex, Komandan Instalasi Rehabilitasi (Inrehab) Pulau Buru bercerita, para tapol diberi kebebasan untuk mengolah hutan dan sungai. “Inilah surga dan neraka kalian, maka tentukan sendiri tempat ini menjadi seperti surga dan neraka sesuai yang kalian inginkan,” demikian Romo Alex menirukan sang komandan Inrehab.

Di setiap unit terdapat banyak orang pandai dan ahli, mulai dari insinyur, dokter, wartawan, guru hingga mahasiswa. Pemerintah memberikan fasilitas berupa alat-alat bangunan dan pertanian, seperti cangkul, gergaji, parang sabit dan lain-lain. Dengan fasilitas itu, para tapol membuat barak-barak sebagai tempat tinggal mereka. Selain itu, mereka juga membuatkan rumah untuk para tentara yang menjaga mereka. Untuk menjamin keamanan dan ketertiban, setiap unit dikawal oleh 12 orang tentara  Divisi Pattimura.

Dalam waktu yang singkat wajah Pulau Buru berubah. Yang semula hanyalah hamparan hutan, rumput dan bentangan sungai Wai Apu,  berubah menjadi sebuah tempat hunian dengan fasilitas yang lengkap. Di setiap unit berjejer bangunan rumah dan tempat ibadah seperti Masjid, Gereja, Pura dan Wihara. Selain itu gedung olahraga dan kesenian membuat pulau buruh menjadi hunian yang lengkap. Masing-masing unit juga membuat sawah dengan kisaran luas antara 75 sampai 150 hektar. Air untuk irigasi sawah berasal dari sungai Wai Apu. Pulau Buru menjelma sebagai sumber  beras bagi hampir seluruh wilayah Maluku. Beras hasil Pulau Buru dijual ke wilayah Maluku. Hasil menjual beras digunakan untuk membeli mesin diesel yang menjadi sumber pembangkit listrik.

Pewartaan Senyap
Guna mendukung proses rehabilitasi, pemerintah mengirimkan para dokter dan rohaniwan yang ditugaskan untuk merawat dan membina para tapol. Menurut cerita Romo Alex, saat ia tiba di Pulau Buru, terdapat 21 rohaniwan Islam, sementara Protestan memiliki enam pendamping. Katolik, Hindu dan Budha masing-masing hanya memiliki satu pendamping.

Tugas para Rohaniwan adalah mengajar agama kepada para tapol sesuai dengan agama masing-masing. Para tapol dilarang berpindah agama. Para Rohaniwan boleh memberikan pengajaran Santi Aji (pelajaran budi pekerti) kepada semua tapol. Saat seperti inilah, diam-diam Romo Alex mengajarkan Injil kepada para tapol. “Saya selalu mencuri kesempatan untuk mewartakan Injil kepada mereka.”

Untuk mendukung karya pewartaannya, Imam yang ditahbiskan pada 16 Desember 1970 ini, menilai perlunya menghadirkan Injil secara nyata dalam kehidupan para tapol. Pada bulan ketiga, ia menulis surat kepada pemerintah Belanda. Isi surat itu adalah meminta bantuan dana untuk membeli kacamata bagi para tapol, karena banyak yang mengalami gangguan penglihatan. Pemerintah Belanda menjawab permintaan Romo Alex.

Melalui Mgr Andreas Petrus Cornelius Sol MSC, pemerintah Belanda mengirimkan uang permintaan Romo Alex. Ia lalu mengukur tingkat kerusakan mata para tapol dan mencatat hasilnya. Setelah itu Ia mendatangi toko optik di Ambon. Para pemilik toko terkejut karena Ia memesan kacamata dalam jumlah besar, sampai ribuan. Mengakali itu, mereka membawa catatan pemeriksaan Romo Alex ke Surabaya. Dari Surabaya dikirimkan jumlah kacamata sesuai dengan jumlah yang diminta.

Romo Alex juga meminta bantuan obat-obatan kepada pemerintah Jerman. “Saya tulis saja; To Government of Germany, dan isinya, kisah saya di Pulau Buru,” ujarnya. Pemerintah Jerman menjawab permintaan Romo Alex. Selain itu Ia juga menjadi penghubung antara para tapol dengan keluarga tapol. Para tapol akan mengirimkan surat ke keluarganya melalui Romo Alex, dan sebaliknya. Oleh Romo Alex surat dikirimkan melalui perantaraan Mgr Sol, Romo Stanislaus Sutopanitro dan Romo Charles de Blot SJ.

Romo Alex juga membelikan kertas dan karbon untuk para tapol yang memiliki hobi menulis seperti Pramoedya Ananta Toer. Kelak, Pramoedya ini menulis Tetralogi Buru. Sebagian karyanya diselundupkan oleh Romo Sutopanitro, sebagian lainnya oleh Romo Alex Dirjo.

Pembatisan Massal
Semua karya Romo Alex melahirkan keakraban antara dirinya dengan para tapol. Beberapa tapol secara terang-terangan meminta untuk diajari iman Katolik dan dibaptis. Romo Alex menentukan syarat pembaptisan harus mengikuti kelas agama selama 40 kali. Untuk membantu tugasnya, Romo Alex memilih ketua lingkungan di setiap unit. Ketua lingkungan bertugas mencatat nama para tapol yang sudah 40 kali mengikuti pelajaran agama dan memilih nama baptis untuk mereka.

Materi katekese yang diajarkan kepada tapol berkisar pada nilai –nilai persaudaraan, kemanusiaan, kejujuran, toleransi, komitmen pribadi. Kadang para komandan unit bertanya kepada Romo Alex mengenai ajarannya. Pada akhirnya para komandan itu tidak peduli dan membebaskan dirinya untuk mengajar, asal tidak membuat para tapol berpindah agama. “Itu mungkin efek surat ajaib dari Jenderal Sudomo,” simpul Romo Alex.

Setelah para tapol memenuhi kelengkapan baptis, Romo Alex akan berkeliling dari unit ke unit. Biasanya ia akan tinggal selama dua hari di masing-masing unit. Sore hari sekitar pukul 04.00 setelah para tapol pulang kerja dari ladang dan sawah mereka akan mandi di sungai. Para calon baptis akan memberi tanda kepada Romo Alex. Tanda itu berupa alang-alang yang dipegang atau diikat di kedua tangan. Mereka satu per satu menceburkan diri dan mendekati Romo Alex. Setelah berada dalam jarak dekat, calon baptis akan menyebut nama baptisnya.

Romo Alex memegang kepala calon baptis, lalu mencemplungkannya ke dalam air dan membatis, “Aku membaptis kamu dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, pergi kamu.” Biasanya, setiap pembaptisan, Romo Alex akan membaptis sekitar 40 orang. Para tapol yang telah dibaptis akan didata oleh ketua lingkungan.

Setelah menerima pembaptisan, mereka akan menerima sakramen pengakuan dosa dan Ekaristi. Pengakuan dosa dilakukan dengan mengucapkan doa “Saya Mengaku” dan ditutup dengan absolusi umum. Pada 1979-1980 hampir setengah dari jumlah tapol di Pulau Buru menjadi Katolik. Romo Alex membuatkan surat baptis untuk setiap tapol.

Pada akhir 1978, Romo Alex menderita penyakit kuning. Mgr Sol memintanya untuk berobat ke Jawa. Romo Alex sebenarnya ingin berkarya sampai semua tapol bebas. Tetapi demi kepatuhan kepada Mgr Sol dan kesehatan, ia mengalah. Setelah pembebasan 1979 banyak tapol yan pulang ke tempat asalnya masing-masing. Sejak saat itu, Romo Alex praktis kehilangan kontak dengan para tapol itu.
Tentara Divisi Pattimura


Buru, Dulu dan Sekarang
Romo Alex bukanlah satu-satunya imam yang memiliki jejak pastoral di Pulau Buru. Sebelum dia, ada Romo Sutopanitro, Mgr Sol, Romo de Blot dan Romo Ruffing. Salah satu karya pastoral yang diingat oleh Romo Alex adalah cerita tentang Romo de Blot yang membantu khususnya para tapol yang masih berstatus mahasiswa. Dengan caranya, Romo De Blot berhasil membebaskan beberapa mahasiswa sebelum keputusan bebas dari pemerintah diberlakukan.

Setelah Romo Alex, ada beberapa imam lainnya yang memberikan pelayanan pastoral di Pulau Buru. Menurut cerita Romo Alex, ada seorang imam yang melakukan pembaptisan terbuka. Sontak, tindakannya itu menimbulkan kegusaran para aparat Pulau Buru. Imam itu pun diminta untuk berhenti membaptis. Imam itu merasa heran mengapa ia dilarang membaptis. Ia pun bertanya kepada salah satu perwira keamanan Pulau Buru, “Mengapa Romo Alex yang membaptis ribuan orang tidak dilarang?” Namun perwira itu tidak mendengarkan celotehan sang Imam.

Setiap imam yang berpastoral di Pulau Buru berkarya dalam misi yang sama. Yaitu  mengusahakan kepedulian manusiawi dalam perspektif gereja. Kepedulian itu terwujud dalam cara seperti memberikan bantuan obat-obatan dan menjadi penghubung tapol dengan keluarga. Kepedulian manusiawi ini dirasa penting agar tapol tidak kehilangan percaya diri dan tetap memiliki semangat hidup.

Kini Pulau Buru memiliki dua paroki dan 24 stasi. Sebelum kedatangan para tapol, Pulau Buru memiliki gereja di Namlea dengan jumlah umat yang sedikit. Namlea masuk dalam wilayah paroki Masohi, Maluku Tengah. Pada 1970, Namlea resmi menjadi Paroki dengan nama Paroki Santa Maria Bintang Laut.

Setelah pembebasan tapol Pulau Buru,  jumlah umat Katolik meningkat tajam. Jumlah umat Katolik saat itu berjumlah sekitar 3000 orang. Mereka adalah para tapol yang enggan kembali ke tempat asal masing-masing atau juga yang dihukum karena melakukan pelanggaran selama masa penahanan. Dari masa ke masa, jumlah umat Katolik Pulau Buru terus bertambah. Tetapi kerusuhan pada 1999 menyebabkan eksodus umat dalam jumlah yang besar. Jumlah umat saat ini sekitar 2800an orang. Untuk memudahkan pelayanan bagi umat di Pulau Buru, Keuskupan Ambonia pada 2010, mendirikan sebuah paroki baru yaitu Paroki Santo Antonius Namrole Pulau Buru Selatan.

Edward Wirawan

Share:

0 komentar