SIMEONE Terancam Lupa Hector Cuper

PECINTA Valencia FC sejati tahu siapa itu Hector Cuper. Ia pelatih asal Argentina yang membesut Kelelawar Mestalla pada 1999-2001. Waktu itu Maurinho masih menjadi penerjemah Bobby Robson pelatih Barcelona kala itu. Joseph Guardiola masih menjabat kapten Barcelona.

Gebrakan Cuper di Valencia menjadi diskusi di ruang ganti Barcelona. Apa latar? Valencia di bawah asuhan Cuper menjadi finalis Liga Champions dua kali berturut-turut. Pada tahun 2000 ia membawa armada Mestalla ke Stade de France di Prancis. Final ini menjadi sejarah pertama kali tim dari suatu negara bertarung di partai puncak turnamen terbesar di Eropa ini.

Kala itu Real Madrid yang masih milik Raul Gonsales seorang. Beckham, Zidane dan Ronaldo (yang asli) belum tiba di Madrid. Cuper yang mencengangkan Alex Ferguson tak beruntung. Taktiknya kalah oleh Vincente Del Busgue.

Tiba di Valencia, ia menyiapkan proposal. Nama Roberto Ayala dan Pablo Aimar menjadi tajuk proposal itu. Aimar saat itu disebut-sebut sebagai buah persetubuhan kerinduan warga Argentina akan sosok Maradona. Oleh pengamat dan FIFA, Ayala dianggap sebagai salah satu bek terbaik di generasinya. Tiga bek bersejarah dalam liga Italia, Nesta, Maldini dan Zanetti menyebutnya sebagai bek yang komplit. Di kaki Ayala, Valencia memiliki pertahanan tangguh. Ia dan Mauricio Pellegrino menjadi duet yang disegani di Eropa kala itu.

Kekuatan baru itu membawa Valencia dan Cuper ke San Siro Milan dalam final melawan Bayern Munchen. Tim raksasa Jerman itu menekan Valencia dan menguasai pertandingan. Tetapi kaki Roberto Ayala dan Perregrino melindungi Canizares dari serangan ala Jerman. Aimar diplot untuk mengendalikan serangan balik cepat dan mematikan. Lagi-lagi Cuper tak beruntung. Laga berimbang satusatu. Saat adu Penalti, Munchen memiliki monster bernama Oliver Khan.

Sekilas, jika kita mengamati Valencia era Cuper agak sama dengan Atletico era Simeone. Materi skuad juga layak dibanding-bandingkan. Hanya saja jika Simeone sudah berhasil menjuarai La Liga, Copa Del Rei dan Super Copa, Liga Europa, Piala Super Eropa, Cuper hanya menikmati Super Copa. Setelah itu, Cuper tenggelam dalam pusaran sejarah.

Simeone bahkan pernah nyaris memenangi trophy kuping besar. Itu terjadi pada 24 Mei 2014 silam dalam final melawan Madrid di Lisbon. Gol Diego Godin pada menit ke 38 dikunci hingga waktu normal berakhir. Seisi dunia saat itu mungkin sudah yakin dengan thesis siapa yang mengalahkan Barcelona akan juara.

Tetapi Madrid adalah Madrid. Umpan panjang Di Maria kepada Ramos menyelamatkan muka Ronaldo dan Bale, dua pemain termahal Madrid. Gol Ramos menjadi titik krusial kemenangan Madrid. Setelah laga, Simeone dipuji dan dikritik. “Pertahanan yang kuat menjiplak Cuper ternyata tak pernah berhasil.”

Terancam DiLupakan
Kini Atletico akan datang ke San Siro menghadapi pemenang City vs Madrid yang sebentar lagi akan bertanding. Sebuah pesan untuk Simeone, San Siro adalah akhir dari karir Cuper. Saya mendoakan yang terbaik bagi Simeone. Semoga ia bisa memangi laga kali ini. Demi Barcelona, tim yang besar itu. Demi nama Cuper yang terlupakan itu. Demi keseimbangan sepakbola. Akankah Simeone menang? Wallahu a’lam.

Sejarah tak pernah melupakan pelaku sejarah, baik pemenang maupun yang kalah tetap disebut, meski dengan proporsi yang tentu tidak seimbang. Lihat saja Hannibal Barca penakluk imperium Romawi yang hanya mencuri sedikit ingatan manusia. Namun sejarah yang tinggal di ingatan manusia kerap diancam untuk meminjam Milan Kundera ‘Kitab Lupa dan Gelak Tawa’.

Manusia suka lupa bahkan akan dirinya sendiri. Gelak Tawa adalah penegas akan kelupaan manusia itu. Lihat saja Barcelona. Usai tersingkir dari panggung yang menjadi habitatnya cuma bersedih sebentar. Tetapi mereka bergelak tawa ketika tahu La Liga dan Copa Del Rey sepenuhnya ada dalam kendali mereka. Barcelona lupa akan target di ruang ganti awal musim: Menjadi yang pertama mempertahankan gelar juara di format baru Liga Champions dan bahkan menjadi yang pertama mempertahankan treble winners.

Tetapi gelak tawa bukanlah melupakan. Gelak tawa adalah penyeimbang hidup manusia yang cenderung lupa. Kita barangkali memang perlu lupa. Bayangkan saja jika kita mengingat terus pembantaian 1965. Mengingat terus otoritarian Soeharto dll. Kita perlu gelak tawa. Mungkin dalam diri Jokowi atau Ahok. Kita perlu lupa gelontoran uang mahal Madrid untuk memenangkan Liga Champions. Kita perlu gelak tawa dari sisi lain kota Madrid dan itu adalah Atletico Madrid dengan Simeone sebagai stand up comediannya. Akankah itu terjadi? Wallahu a’lam.

Kebun Jeruk

Edward Wirawan


Share:

0 komentar