SISI LAIN DIEGO SIMEONE

ADA yang lain pada Diego Simeone di Allianz Arena, ketika Atletico Madrid menyingkirkan Bayern Munchen, awal Mei. Meski kalah 1-2, Atletico merebut tiket ke San Siro lantaran unggul agresivitas gol tandang.
Keluarga Simeone
Ketika Griezman dan kawan-kawan membuka baju dan berpesta, Simeone mengeluarkan Iphonenya. Mau selfie? Tidak! Ia menelpon Gianluca putra keduanya yang bermain di tim muda klub raksasa Argentina, River Plate.

Putra sulung Simeone bermain sebagai pemain pinjaman Banfield dari River Plate. Sedang si bungsu Giuliano belum masuk akademi.

Simeone memberitakan kelolosan ke final kepada putra-putranya. Gianluca senang bukan kepalang. Ia berjanji kepada sang Ayah untuk mendukung langsung di tribun San Siro kala final.

Tak diceritakan, apakah Gianluca dan kedua saudaranya jadi datang mendukung ayah Simeone dan armada Atletico Madrid di San Siro berapa malam lalu. Boleh jadi mereka tidak datang. Atau mereka datang lalu pulang dengan senyap.

Gianluca dalam percakapan dengan Simeone via telepon di Allianz Arena berujar, “Ayah selalu ada kesempatan kedua. San Siro akan mengabadikan ayah.” Tetapi kesempatan kedua Simeone bersama ATM adalah petaka. ATM bukanlah MU, tim raksasa Inggris yang dalam rentang tiga tahun (2009 dan 2011) kalah dua kali pada final oleh Barcelona.

MU hanya bersedih sebentar. Status sebagai raja Liga Inggris mengangkangi Liverpool adalah obatnya. Mungkin kalau mau naif, “Toh mereka dikalahkan oleh tim terkuatnya BARCELONA dengan MESSI di kondisi puncak.”
Tak perlu disesalkan.

Atletico adalah anak tiri di kota Madrid. Meski menjadi kesayangan Raja, pesonanya di planet bumi tidak pernah menyamai Madrid. Maka ketika ia berhasil ‘menguasai’ kota Madrid dalam lima musim terakhir, membuncah ruah-lah kaum anti kemapanan. Semua mata memandang Atletico. Seluruh bumi bergembira ketika ia menaklukkan Barcelona dan Real Madrid. Semuanya bilang; Simeone hebat!!!

Real tak hanya berhadapan dengan seteru abadi Barcelona tetapi juga sang saudara yang tinggal di Vincente Calderon.

Mengecualikan dua final; Lisbon dan San Siro, di kompetisi domestik Madrid keteteran dalam beberapa musim terakhir kala bersua Atletico. Apa lagi di dua final itu, Madrid tak bagus-bagus amat. Hanya sedikit keberuntungan menentukan trophy akan tiba di lemari siapa.

Saya membayangkan, diktator Fransisco Franco terusik di alam baka mendengar cerita Johan Cruyff yang telah pulang. Saat kedatangan Cruyff di alam Baka, Franco menyambut dengan wine dan cerutu. “Tak usah takut akan kesehatan, di sini, nikotin dan alkohol tak mempan.”

Pada episode pertama ia merasa terhibur mendengar Hegemoni dekade terakhir di Eropa bernama Barcelona. “Ahh, setidaknya sejarah jejak saya yang menganaktirikan Cataluna akan diampuni,” guman Franco.

Dengan kalimat indah, Franco terus bercerita kemegahan Barcelona dengan sosok terbesar sepanjang masa, MESSI menjadi simbolnya. Franco semakin terhibur ketika ia mendengar kebangkitan klub-klub Andalusia. “Sevilla juara Eropa kelas menengah tiga tahun terakhir,” ujar Cruyf yang semakin mengharu biru-kan Franco.

Ia mungkin ingat betul kejahatannya kepada orang2 Andalusia, Basque dan Cataluna. “Ohh, syukurlah.”
“Bagaimana Madrid?” tanya Franco penasaran. “Madrid yang mana? Atletico atau Real?” Cruyff pun bercerita soal pergeseran dan pengimbangan kekuatan di kota Madrid. Franco tersenyum kecut dan puas.

“Ceritakanlah padaku tentang Simeone itu,” pinta Franco.

Dengan sangat gembira, Cruyff bercerita soal Simeone. Secara filosofi dan taktik, Cruyff tidak menyukainya. Tetapi ia mengagumi sosok Argentina itu. Ia mirip yang terbesar, Helenio Herera, sang pelatih legendaris asal Argentina yang bersama Inter Milan menaklukkan Eropa.

Si Argentina tua itu bahkan menciptakan ‘Catenacio’ di Inter Milan. Sebuah pertahanan grendel super kuat. Resep orang Argentina ini kelak menghukum Maradona dkk ketika final 1990, takluk oleh Jerman di Italia.
Jerman mencuri sedikit taktik grendel itu pada laga final untuk mematikan Maradona.

Franco terus tersenyum kagum pada Simeone. Tetapi dia justru takut, Simeone akan terancam kutukan Hector Cuper yang pada 1999-2000 lolos ke final berturut-turut tetapi ditaklukkan Munchen dan Atletico.

Ketakutan Franco terbukti benar. Pada akhirnya Madrid adalah penguasa kota Madrid. ATM dibawah nahkoda hebat Simeone tetap tak mampu mengusik pesona Madrid.(BACA: Simeone Terancam Lupa Hector Cuper)

Hanya Franco tak tahu. Simeone telah membuat sebuah maha karya di Atletico. Ia tetap akan abadi. Ia tak akan menjadi Hector Cuper yang terhapus diringkus sejarah. Sebuah pilihan bijak ketika Simeone berujar ingin rehat sejenak. Menyepi untuk merawat ingatan tentang siapa SIMEONE itu. Simeone tidak boleh lupa dirinya sendiri.

Kalah di dua final turnamen besar memang meyakitkan. Itu mirip dengan putus cinta dengan tunangan yang pertama. Dan final kedua seumpama mendapati kekasihmu ditiduri dunia ini. Simeone hancur lebur. Ia tak berani menghubungi istri dan ketiga putranya.

Dengan penuh kegagahan, Simeone merangkul Tores, Griezman dan pemain-pemainnya. “Inilah hidup, takdir adalah takdir.” Ia mengutip pesan Ksatria Cahaya; Setiap kita memiliki legenda masing-masing sama seperti Messi atau Ronaldo. Sama seperti Ferguson, Maurinho dan Guardiola.

Sikap ksatria Simeone mendapatkan penghormatan tinggi dari Sang Maestro Zinadine Zidan. Zizou berujar, “Simeone hanya kurang beruntung. Ia pelatih yang sangat hebat, sosok yang luar biasa.”

Ucapan Zidane tidak hanya mencerminkan sosok Zidane yang rendah hati tetapi juga penegas tentang siapakah Simeone itu. Di akhir laga, usai keluar dari ruang ganti, Gianluca dan kedua saudaranya menelpon Simeone. “Pulanglah engkau Juara.”

Menitikkan air mata, Simeone menatap langit. Ia tersenyum. Ia tahu di rumahnya ada tiga trofi 'Champions' yang menunggunya. Ketiga putra kesayangannya. Meski masih diselimuti sisa kegundahan, Simeone pulang membawa legendanya sendiri.

“Kalian akan memiliki legenda masing-masing. Jangan takut, kejarlah takdirmu.” Pesan untuk anak asuhnya di Vincente Calderon ia ulangi di hadapan ketiga putranya. Gianluca berlari meyongsong ayahnya. Kedua saudaranya juga berlari. Mereka berpelukan dengan mesra, dan sang istri bernama Carolina Baldini menyaksikan adegan itu sambil menitikan air mata yang tak mampu kau terjemahkan.

Simeone adalah kesayangan pemain dan seluruh Vincente Calderon. Ia pribadi yang hangat, karena dibentuk dari keluarga kecilnya yang hangat.
Simeone dan skuad Atletico

Pada akhirnya; Tak ada yang lebih megah dari sebuah keluarga beratapkan kasih dan kehangatan. Hal yang meyenangkan dalam hidup adalah ketika kau pergi dari rumah dan kau tahu ada yang merindukanmu dalam doa. Ketika kau kembali dari peperangan dan ada kasih yang menantikan luka-lukamu.

Kita barangkali jangan takut untuk menjemput takdir kita. Mungkin harus merawat ingatan kita bahwa dunia bukanlah yang terakhir. Ketika kau memiliki dunia tetapi kau tak memiliki kasih, sia-sialah dunia itu.

Kita sungguh tak mengetahui seperti apa hari esok itu. Ia tak pernah dijanjikan. Inilah yang membuat hidup ini indah. Bahwa kemungkinan untuk terluka, dihancurkan selalu ada. Bahwa kemungkinan untuk mewujudkan harapan dan mimpi selalu melimpah.

Kita sungguh tak tahu, seperti apa sebuah usaha akan dibayar. Sejauh mana kata-kata akan dimaknai dan apakah sebuah Isyarat akan sampai. Saat momen terik mentari menyengatmu, mungkin perlu diingat bahwa kau pernah melewati momen: Sendirian di dalam kamar, pintu terkunci, hujan deras mengguyur dan petir membahana memekakkan telinga dan kau mendengar, menyaksikan Malaikat bertengkar hebat dengan setan.

Adegan Simeone, ketiga putranya dan istrinya memberi kita sebuah pesan. Kasih, kesetiaan, keberterimaan, air mata, senyum adalah yang tidak teringkari. Memberi kita sebuah isyarat bahwa Ksatria Cahaya sekalipun berdarah dalam peperangan tetaplah Ksatria. KITA BUKAN LAGI KSATRIA KETIKA KITA BERHENTI BERPERANG, BERHENTI BERJUANG DAN BERHENTI BERUSAHA.

Tetapi dalam hidup ini, ada hal yang tidak bisa dipaksakan! Ada yang... ahhh,


Edward Wirawan

(Kebun Jeruk dan upaya menghalau gundah dan galau: E-One).

Share:

0 komentar