Apa Kabar Jessica Si Pipi Merah Merona

SUDAH lama saya memendam ini. Ingin menatap engkau lebih dekat. Mengamati lekuk molek tubuhmu. Bahkan ingin merasakan hembusan nafas dari kerongkonganmu. Kata temanku, konon, harum nafasmu bagai bunga kembang sepatu.


Dan ingatan tentangmu kembali ke permukaan, setelah berita bahwa berkasmu sudah dinyatakan P21. Itu artinya kau segera disidangkan. Ahmm, jadi deg-degan nih, seperti apa hasilnya.

Nyatanya aku tak pernah sempat menjumpaimu. Tetapi gambar wajahmu di surat kabar, TV dan media online sungguh meluluhlantakkan hati. Semua menyatakanmu bersalah. Tak ada yang membela bahkan pengacaramu terkesan tak berdaya, karena tak tahu bagaimana membelamu.

Masih kata temanku, kamu memiliki pipi yang merona. Bisa kubayangkan, itu pasti menggemaskan. Ahh, mengapa tidak pernah ada kesempatan untuk menjengukmu? Entahlah..

Tetapi Sianida yang bersalah itu melemparkan kesalahan tunggal padamu. “Ia yang memesan kopi,” kata Sianida yang mungkin saja lupa siapa yang menjatuhkan dirinya ke dalam gelas Mirna.

Sianida yang tak bisa dipercaya itu malah membingungkan polisi. Terbiasa dengan razia-raziaan, kini mereka diuji kasus rumit bernama Sianida dan Segelas Kopi. Katanya itu kopi komunis, ehh kopi Vietnam (berpaham komunis).

Polisi yang lincah dengan razia narkoba kelabakan dengan kasus Sianida yang konon lebih jahat dari narkoba itu. Dengan upaya sana-sini, akhirnya 29 Januari kau dinyatakan sebagai tersangka. Saat itu, kesedihan menjadi teman di meja kerjaku. Menjadi aroma di gelas kopiku. Menjadi harum di asap rokokku. Kamu menjadi setiap apa yang berkaitan denganku.

Awal Februari, kau mulai kulupakan seiring pemberitaan tentangmu yang mulai memudar. Indonesia memang begitu Jessica, selalu ada cerita lain untuk dikupas. Beda dengan Australia, tempat engkau dibesarkan. Tempat yang mungkin di masa mendatang akan menjadi rumahku. Tetapi tanpa kamu di Ausi, mungkin gak seru ya.

Setelah kisah kopi komunismu ehh, kopi Vietnam bersianida itu lenyap, banyak kasus lain yang mengambil tempat. Mulai dari ekonomi yang lesu politik yang kacau, hingga terbaru adalah pemerkosaan berjemaah di mana-mana. Mungkin kamu belum dengar beritanya. Semoga saja ada koran di ruang tahanan-mu.

Jessica, saya sungguh tidak tahu, apakah kedua tanganmu yang menjatuhkan sianida ke dalam kopi komunis itu. Saya sih percaya, itu bukan kamu. Tohh, hanya Tuhan dan kamu yang paling tahu. Memang, Mas Krisna, polisi hebat itu, memiliki bukti-bukti, tetapi kan belum tentu. Iya kan?

Satu yang saya amati, dengan semua yang kamu jalani, kamu sosok yang kuat. Tetaplah kuat. Semangat.. heheheeh. Kamu harus menularkan sisi ‘kuat’ itu kepada perempuan lain. Agar  tak menjadi korban pemerkosaan berjemaah atau senggama berjemaah yang laris manis belakangan ini.

Kemarin sudah keluar perppu Kebiri (no 1 tahun 2016) yang boleh menghukum mati pelaku pemerkosaan. Sedikit banyak, hukumannya sama dengan Pembunuhan Berencana yang dituduhkan kepadamu.

Tanpa bermaksud mengolek-olek, saya ingin mengajukan pertanyaan kepadamu, benarkah engkau yang menjatuhkan kopi komunis ke dalam gelas? Jika iya, atas dasar apa? Cemburu? Ahh Jessica, di dunia yang penuh sesak manusia ini, kecemburuan rasa-rasanya tak pantas.

Jika satu tidak mau, cari yang lain. Sesederhana itu kan? Makanya saya membenci setiap pelaku pembunuhan atas nama kecemburuan atau nafsu rendahan yang tak terkontrol. Misal, bocah-bocah pelaku pemerkosaan terhadap Yuyun di Rejang Lebong Bengkulu. Mereka pantas dihukum seberat-beratnya.

Kan mereka bisa menyalurkan itu dengan masuk ke kamar mandi. Eitss jangan otak kotor dulu kalian yang baca, heheheh. Ini masih ada lanjutannya. Masuk kamar mandi, cuci muka, lalu berolahraga atau jalan-jalan. Cuci muka itu untuk menyegarkan segala gejolak lho.

Tetapi ada persoalan lain. Mereka itu bocah, punya agama dan bukan PKI. Inilah persoalan itu, pendidikan moral, agama hanya mengajarkan apa yang jahat dan berbahaya bagi agama. Bercerita sejarah kejahatan PKI, tanpa pernah mengajarkan pentingnya kontrol terhadap kontol. Bercerita tentang keburukan kelompok lain tanpa tahu kebaikan macam apa yang ingin ditonjolkan.

Mungkin, keluarga, lembaga pendidikan harus dihukum dengan Perppu Kebiri juga. Bocah-bocah itu adalah korban. Mereka pelaku yang menjadi korban dari rendahnya moralitas dan akhlak yang baik. Akhirnya, korban memperanakkan korban.

Naturenya manusia adalah binatang. Semua mengawini semua. Di sejarah peradaban Yunani dan Romawi, yang nature itu diatur, diubah ke dalam kultur (Beradab, bermanusia). Maka munculah perkawinan monogami. Tetapi ini ala binatang juga lho!! Lihat saja burung merpati. (Burung merpati juga binatang kan?) Hhihihihihihihi.

Ahh, jadi keluar dari topik Jessica. Lantas apa pesan dari semua ini? Tidak ada pesan. Jika aku ingin menyampaikan pesan, aku ingin mendatangi kamu di tahanan. Jika ada yang tanya, aku akan menyampaikan pesan secara pribadi.

Edward Wirawan

Share:

0 komentar