MESSI Dan Hal-Hal Yang Tak Selesai


TUJUH kompetisi mayor telah digeluti Lionel Messi bersama tim nasional Argentina. Tiga piala dunia, empat Copa Amerika. Empat partai final ia terlibat dengan status ‘Yang Maha’. Sebuah capaian yang sebenarnya tak main-main. Tetapi dengan semua kebesaran yang dimilikinya, itu bukanlah capaian.

Pada 2006, Messi ada di antara skuad bertabur bintang Tim Tanggo. Messi, Mascherano dan Tevez adalah bocah yang dihimpit oleh nama besar Juan Roman Riquelme, Hernan Crespo, Roberto Ayala hingga Pablo Aimar. Sebuah skuad yang megah. Jose Pakerman bahkan harus meninggalkan nama besar Tango yang berkiprah di liga Italia, Juan Sebastian Veron hingga Javier Zanetti.

Meski sedang cedera, Jose Pakerman tetap menyertakan Messi sebagai jimat tim. Bocah yang diharapkan akan memberikan efek kala si Genius Riquelme di jalan buntu. Dengan skuad megah seperti itu, Argentina datang ke turnamen dengan status favorit.

Status itu dipertegas di fase grup. Mereka melibas Pantai Gading, menahan Belanda dan membinasakan Serbia-Montenegro 6-0. Dalam pesta gol itu, Messi yang masuk menggantikan sayap bajingan Maxi Rodriguez mencetak satu gol. Sebuah isyarat, ia sudah pulih dari cedera.

Di laga 16 besar melawan Mexico, Messi jadi cadangan. Kala laga 8 besar versus Jerman, Messi tak turun sedikit pun. Argentina takluk oleh Jerman lewat adu penalti.


Skuad yang megah itu pun pulang. Pakerman dan Riquelme dicaci maki. Dua sosok ini dianggap bertanggungjawab. Pakerman, oleh legenda Ossie Ardilles, dicemooh; mengapa tidak menurunkan Messi. Banyak kalangan sepakat dengan Ardilles. Kalau saja Messi diturunkan, akan lain ceritanya.

Messi dilindungi oleh kebodohan Pakerman. Kadang dalam hidup, kita diselamatkan oleh kesalahan, kebodohan atau nasib sial orang lain. Misal, seorang Security dalam peristiwa bom WTC. Ia seharusnya binasa oleh bom hari itu. Hari itu ia tidak masuk kantor karena harus menghadap polisi atas laporan tetangganya soal dugaan KDRT.

Pakerman ceroboh. Messi tak main, alhasil Argentina gagal, Pakerman dicaci maki, Messi dipuji. Apa pasal? Messi yang masih 18 tahun kala itu menjelma menjadi idola baru di Barcelona. Ia dianggap sebagai jelmaan Maradona – pesepakbola terbesar dalam sejarah itu. Kalau Pakerman menurunkan Messi, akan lain ceritanya.

Klaim itu seolah benar, ketika Messi muda menghantar Argentina ke partai puncak Copa Amerika 2007. Tapi apa daya, Argentina takluk oleh Brasil. Publik Argentina dengan mudah memaafkan Lionel Messi. Messi tetap dijaga sebagai harapan. Sebagai sukacita dan kegembiraan yang perlu dinikmati. Toh, Messi masih muda dan akan ada piala dunia 2010.

Tetapi kita semua tahu, seperti apa cerita piala dunia di Afrika Selatan itu. Lagi-lagi Jerman. Tetapi kali ini lebih menohok, Argentina dihancurkan 4-0. Messi menjadi sasaran tunggal kebencian publik Argentina.

Copa Amerika 2011, lagi-lagi, publik dan pendukung Argentina percaya, Messi akan memenangkan Copa. Di bumi Amerika Selatan, Argentina dan Uruguay berbagi status sebagai penguasa kontinen dengan masing-masing menyimpan 14 trofi. Di ajang piala dunia, keduanya sama-sama punya dua trofi.

Tajuk turnamen 2011 itu pun adalah ‘Berebut status raja Amerika Selatan’. Dan itu akan dilakukan Argentina di rumahnya sendiri yang menjadi lokus turnamen. Hasilnya? Argentina gagal total. Mereka dikalahkan Uruguay di perempat final lewat adu penalti. Uruguay yang memiliki ‘binatang buas’ bernama Suarez menjadi raja Amerika Latin. Saat itu Messi mulai menjabat kapten.

Lalu kita tahu seperti apa piala dunia 2014. Argentina nyaris juara, kalau saja Hiquain dan Palacio tidak bodoh. Tidak!!! kalau saja lawannya bukan Jerman. Iya, lagi-lagi Jerman. Tapi pukulan ketiga dari Jerman ini sangatlah berat.

Kita juga tahu, Chili dan lagi-lagi Chili mengancam kekuatan tradisional di belahan bumi Amerika Latin. Dengan modal Vidal dan Sanchez, mereka mempertahankan status juara. Tak hanya itu Chili membuat Messi patah!! Chili menihilkan Messi!!

Kita mungkin bisa memahami ini. Sangat mudah menerima kegagalan Ronaldo bersama Portugal dibanding Messi bersama Argentina. Selain komposisi skuad, sejarah, status, Ronaldo tidak dimasukkan sebagai pesaing Maradona dan Pelle dalam memperebutkan status ‘Yang Terbesar Sepanjang Sejarah’.


Setelah Maradona, memang muncul sosok ikonik semisal Van Basten, Roberto Bagio, Zidane, Ronaldinho hingga Ronaldo Brasil. Tetapi Ronaldo dan Messi muncul dalam persaingan duopoli. Hasilnya, Messi di atas.

Maka trofi Piala Dunia menjadi semacam keharusan bagi Messi, tidak bagi Ronaldo. Portugal tidak pernah memenangkan trofi satu pun. Di situlah bedanya. Kalau Ronaldo menang ya syukur, tidak juga ya nggak apa-apa. Kira-kira seperti itu.


Tetapi bagi Messi, itu syarat tunggal untuk bisa merebut ‘status semesta’ itu. Status di atas status sosial. Status di mana malaikat dan jin juga sepakat soal siapa ‘Sisi sepakbola-nya Tuhan’. Status yang saat ini masih milik Maradona dan Pelle. Messi akan selalu dibanding-bandingkan dengan Maradona dan Pelle.

Lalu seperti apa sepakbola internasional tanpa Messi? Tanya saja mereka yang seusia Maradona. Atau yang sempat menikmati Maradona. Seperti apa tahun 1990-an ketika Maradona pensiun?

“Pada akhirnya, Piala Dunia sudah selesai dan kini siklus baru dimulai,” ujar Messi usai piala dunia Brasil dalam wawancara eksklusif dengan Goal. Itu sebuah harapan. Sebuah keyakinan dari seorang juara besar. Iman pada keadilan sepakbola; "Setelah semua ini, saya akan juara bersama Argentina." Tetapi Copa Amerika edisi spesial 2016 menihilkan itu.

Messi Patah
Ia menangis. Sebuah tanda ketakberdayaan. Mungkin sebuah isyarat, ia tak lagi menikmati sepakbola. Selalu ada hal-hal tertentu yang tidak bisa dijelaskan. Ada banyak hal yang tak selesai. Saya sungguh bersedih dengan apa yang terjadi pada Messi. Mungkin tidak ada alasan, mengapa saya bersedih. Itu sama rumitnya dengan menjelaskan CINTA.

Cinta, kata Gunawan Muhamad, sebuah kata yang tak persis pengertiannya, kecuali ketika kita merasakan sakitnya. Tetapi tetap saja pengertian itu tidak bisa dijelaskan. Ini perasaan yang sama terhadap Band Inggris - Radiohead atau Iwan Fals. Sebuah perasaan yang tidak bisa diganggu-gugat.


Jika gara-gara ini, Messi benar-benar pensiun dari sepakbola internasional, saya akan berhenti menonton bola.

Memang segala sesuatu di kolong langit ini, kata Lao Tzu, akan diubah oleh waktu. Tak ada yang kekal. Termasuk kekalahan dan kemenangan. Termasuk ingatan penuh kebencian dan dendam. Tetapi akhir dari dendam tak selalu maaf. Gelak tawa di akhir sebuah pertengkaran tidak selalu berarti maaf. Setiap ingatan akan diuji oleh lupa. Pada akhirnya, tulis Kundera, dendam dan maaf, akan diambil alih oleh lupa.

Tetapi tak selalu begitu. Dendam Achilles pada Hektor, pangeran gagah perkasa dari Troya tak pernah disentuh lupa. Diceritakan, saat dua ksatria itu bertempur dengan sangat gagah, seluruh jagad menonton. Para dewa dan laskar menyaksikan; Hektor yang tinggi tegap, gagah dan berwajah tampan itu mati di tangan manusia setengah dewa, Achilles. Dendam dan maaf memang tak bisa dilepaskan dari ingatan.

Tetapi Messi dendam kepada siapa? Dendam kepada CINTA dan kehidupan bernama sepakbola. Mengesampingkan kompetisi yang akan diikuti Barcelona, Messi perlu ingat masih ada Piala Dunia Russia 2018 dan Copa America 2019.


Pertarungan harus selesai. Setiap ksatria cahaya harus berperang hingga ajal. Itulah yang membuat ia disebut ksatria cahaya. Messi saat ini barangkali matinya sebuah harapan. Tetapi ia harus menyimpan dendam di Rusia. Mungkin dengan Messi yang mati harapan, ia akan diabadikan sebagai 'Satu-satunya yang terbesar' di Rusia nanti.

Hanya saja, dalam hidup selalu saja ada hal yang tidak tuntas. Tetapi kita dipanggil untuk hidup dan berperang. Sisanya ada jalannya masing-masing. Selalu saja ada yang tak tuntas!! [E-One]

Share:

0 komentar