Karena MESSI Orang Argentina!

PASKA kalah di final Liga Champions 2016, Diego Simeone berujar; akan rehat dari sepakbola. Dalam sebuah sesi wawancara dengan Goal, 29/6, Simeone meluruskan ihwal ia berkata seperti itu "Setelah final, saya bicara terbawa emosi. Kami orang-orang Argentina sedikit seperti itu," ujarnya.

Seorang Nona Argentina menangis
Di Argentina, sepakbola seperti iman dan perbuatan. Iman tanpa perbuatan adalah mati. Bagi orang Argentina, kehidupan tanpa sepakbola adalah mati. Bahkan, meski Brasil adalah raja dunia, Tango tetap spesial. Liga Apertura dan Clausura berada dalam tataran liga elit dunia. Ia ada dalam lima besar. Bahkan pada 2015, IFFHS (federasi statistik sepakbola) menempatkan Liga Argentina di peringkat 4. (Baca: The Strongest League In The World)

Liga yang kompetitif dan akademi sepakbola membuat kita mafhum; mengapa pemain Argentina lebih bertahan lama ketimbang Brasil. Bandingkan saja usia pensiun Ronaldinho, Ronaldo dengan Hernan Crespo, Riquelme dan Javier Zanetti. Kita mafhum; mengapa Argentina melahirkan pelatih berkelas dunia seperti Diego Simeone atau Mauricio Pochettino di Totenham Hotspur.

Merunut lebih jauh ke ruang sejarah, ada Helenio Herrera sang penakluk Eropa. Di bawah asuhannya, Inter Milan merajai Eropa pada 1964 dan 1965. Ada lagi Hector Cuper yang membawa pesawat Valencia terbang tinggi di awal milenium. Sayang Valencia dengan Cuper sebagai pilot ditembak jatuh oleh Madrid dan Munchen pada final Liga Champions 2000 dan 2001.

Sepakbola Argentina adalah perpaduan sepakbola jalanan dengan akademi. Mereka bermain dengan militansi Latin yang terdidik.

Teman saya Chiara, pernah magang di kantor kakak perempuan saya, ECPAT Indonesia adalah pencinta tim nasional Argentina. Ayahnya seorang brigader Jenderal dalam tubuh militer Italia. Ibunya berasal dari Buenos Aires, Argentina. Ia tinggal di Italia. Kuliah di Nottingham Forrest, Inggris, tetapi ia mencintai tim nasional Argentina.

Chiara bercerita, suatu ketika ia berlibur ke Argentina. Kebetulan sedang ada pertandingan persahabatan Argentina melawan Spanyol. Di tribun penonton, ia bergabung dengan nona-nona Latin; menyerukan nama Messi. Sejak itu Chiara menjadi pemuja Argentina. Mengapa bukan Italia? Mengapa bukan Inggris?

Saya tak persis ingat penjelasan ihwal ia mencintai Argentina. Barangkali, karena sepakbola adalah darah orang-orang Argentina, sebagaimana Latin umumnya. Mungkin ini pula yang menjadi alasan mengapa bintang Juventus, Paulo Dyabala enggan membela Italia. Padahal ia tahu, persaingan lini depan Argentina sangat ketat.

Messi Tak Pensiun
Kita jadi mafhum mengapa Sri Paus menyukai klub di kota megapolitan Buenos Aires, San Lorenso. Paus Fransiskus lahir dari rahim sepakbola. Ini mungkin jadi alasan mengapa ia begitu universal dan revolusioner.
Paus Fransiskus dikunjungi kesebelasan San Lorenso

Sepakbola Argentina berada dalam tataran elit. Anehnya, di jalan-jalan atau di manapun, orang Indonesia mengklaim Liga Inggris terbaik. Mungkin mereka lebih pandai dari para analis dan ahli statistik IFFHS. Atau mungkin penggemar sepakbola Indonesia adalah golongan seenak jidat. Seperti halnya kumpulan ‘serba putih’ yang membela Tuhan. Mereka kelompok seenak jidat yang mengkafirkan manusia lain.

Orang Argentina, seperti bangsa Latin lainnya suka dengan munculnya tokoh. Selalu ada yang didewakan. Itulah mengapa orang Brasil (dan Latin secara umum) menganggap Ayrton Senna sebagai dewa Formula One walau Michael Schumacher lebih meraih banyak gelar. Atau Fernando Alonso dari Spanyol dianggap lebih genius. Alasan yang sama dengan Pelle dan Maradona. Begitu juga Ernesto Che Guevara yang juga orang Argentina.

Messi adalah kebanggaan Argentina. Di saat ekonomi Argentina lesu, orang-orang akan menjadikan trofi piala dunia sebagai makanan. Sebagai harga diri yang mempertahankan hidup. Sayang seribu sayang, ia belum bisa membangunkan warga Argentina dari mimpi menjadi juara dunia (lagi). Mimpi yang melahirkan sukacita seperti halnya ketika Maradona membangunkan mereka pada 1986. Mungkin Messi tidak akan menjadi mimpi yang sempurna.

Dengan bakat melimpah, juara dunia seolah menjadi keniscayaan bagi Argentina. Hal yang sama juga berlaku di Brasil. Lebih dari itu karena sepakbola adalah kehidupan orang-orang Argentina. Air mata Messi dan niat ‘ingin pensiun’ dari lapangan mempertegas hal itu. Kalau sepakbola tidak lagi berdenyut dalam nadinya, mungkin ia harus berada di bangku penonton saja.

Maradona dan Messi
Komentar soal Messi ‘gagal menjaga harapan’ atau ‘bukan seorang juara’ itu juga benar. Karena kita bukan orang Argentina. Kita orang Indonesia. Di Argentina sepakbola, tidak bisa tidak; adalah yang tak terpisahkan dari hidup. Ungkapan ingin pensiun adalah kekecewaan sementara. Seperti Simeone, Messi akan main hingga 'kerentaan sepakbola' menjemputnya.  Messi kecewa bukan hanya karena gagal di empat final. Itu karena Messi orang Argentina!! [E-One]

Share:

0 komentar