Surat Ketujuh

LAMPU gereja yang temaram dan alunan musik berirama pelan dari sebuah organ tua menciptakan suasana khusyuk pagi itu. Umat satu persatu meninggalkan gereja. Di bangku baris kedua deretan tengah depan altar, Daniel bertelut dengan mata yang berkaca-kaca. Perlahan ia duduk dan memandang arca Bunda Maria yang terletak di sebelah kiri altar. Segera ia beralih ke hadapan arca itu.  “Jubah pelindung, dengarkanlah aku”, ia membatin sambil memejamkan mata. Beberapa tetes air matanya jatuh. Mulutnya berkomat-kamit merapal doa. Air matanya terus mengalir deras.
Daniel, pemuda tampan itu tak kuasa menahan diri. Ia menangis tersedu-sedu. Seorang puteri altar yang sedang membereskan panti imam menatapnya datar. Ia mengenal pemuda itu. Ia pun mendekatinya, “Ini kak Daniel”, katanya sambil menyodorkan sehelai sapu tangan putih.
“Gemma, kamu belum pulang”?
Daniel sedikit terkejut dan segera menyeka air mata dengan tangannya. Setelah itu ia menyekanya dengan sapu tangan putih itu. Gemma adalah seorang mahasiswi semester II, adik dari Haddasah, tunangan Daniel yang meninggal tujuh tahun silam. Ia sejak SMP sudah aktif memberikan pelayanan di gereja entah sebagai lektris, maupun puteri altar.
“Belum kak, setelah ini saya akan mengajar anak-anak sekolah minggu”, jawab Gemma sambil tersenyum.
Hmm okelah, kamu bereskan altar dulu, lalu kita ngopi di luar”. Gemma kembali ke altar dan pandangan Daniel mengikutinya.
“Semakin besar, anak ini semakin mirip dengan Haddasah”, Daniel berguman pelan.
Daniel mengalihkan pandangannya ke wajah Bunda Maria di hadapannya.
“Ahh, aku tidak bisa membayangkan seperti apa aku tanpa Engkau, Bunda Jubah Pelindungku”. Daniel selalu menyebut Bunda Maria sebagai Bunda Jubah Pelindung. Seluruh pergumulan spiritualnya, hampir selalu melibatkan Bunda Maria. Baginya, Maria adalah puncak perwujudan kasih Allah kepada manusia.

***

“Kak Daniel, kenapa tadi menangis”? Gemma membuka pembicaraan sambil sesekali menyeruput teh hangat di kedai Kopi di depan gereja. Kedai itu persis berada di samping panti asuhan Asumpta dan menghadap ke arah pintu utama gereja.
“Ini adalah tahun ketujuh Haddasah pergi”, jawab Daniel dengan pandangan yang kosong. “Kepergian yang tak pernah pulang”, lanjutnya.
Gemma menatap wajah Daniel, ia melihat pancaran kasih dan cinta yang abadi. Tidak ada kebohongan di sana. Ia tidak terkejut dengan jawaban Daniel, ia tahu hari ini genap tujuh tahun kakaknya meninggal.
“Kak, diminum tehnya, nanti keburu dingin”. Gemma berusaha mencairkan suasana.
Mereka kemudian berbincang-bincang. Sesekali Daniel tersenyum dan tertawa. Rupa-rupanya, Gemma melontarkan guyonan yang mengocok perut. Gemma memang gadis dengan tipikal periang. Teman-temannya menjulukinya sebagai ‘girl without tears’. Itu karena pembawaannya yang selalu ceria. Pagi itu Ia menghindari pembicaraan terkait Haddasah. Ia tidak ingin melihat Daniel bersedih.
“Kak, aku mau ngajar dulu”, kata Gemma sambil melirik jam tangannya. Ia menatap Daniel, masih ada raut kesedihan di sana. “Oke, oke, thanks a lot ya De”, Ujar Daniel sambil mengelus rambut Gemma. Gemma tersenyum lalu berdiri dan mengucapkan beberapa kali terima kasih. Sejak berkenalan dengan keluarga Haddasah, Daniel sudah menganggap Gemma sebagai adiknya sendiri.
Daniel membayar minumannya, “Kembaliannya disimpan aja Mas”, katanya. Ia kemudian beranjak pulang tanpa menghiraukan ucapan terima kasih dari si penjual kopi.

***

Di kontrakannya, Daniel mengumpulkan beberapa barang peninggalan Haddasah. “Sudah tujuh tahun, aku harus merelakanmu malaikat kecilku”, ia berguman. Tiba-tiba matanya tertuju pada seuntai liontin. Ia berhenti sejenak, Liontin ini mengingatkan dia akan satu hal. Itu seharusnya menjadi kado terakhir untuk Haddasah, sebelum kecelakaan maut merenggut pujaan hatinya itu. Liontin itu bertuliskan kalimat pendek dan samar, A True Love is an eternity.
Daniel tersenyum. Ia ingat, kalimat itu juga tertulis pada kaos yang diberikan Haddasah untuknya. Ia ingat, ketika memesan liontin itu, ia meminta agar dituliskan kalimat yang sama. “Yang ini kusimpan Hadassah”, ujar Daniel seolah-olah Haddasah berada di dekatnya.
Barang peninggalan Haddasah kini terkumpul rapi dalam kotak bekas TV 24 inch. Sepatu, kaos, kemeja, semua ada di situ, semua barang pemberian Haddasah, kecuali satu untai Liontin. Daniel sudah berjanji akan membuang semua peninggalan Haddasah pada tujuh tahun kepergiannya.
Di atas kotak itu, ia menempel sepotong surat. Setelah kematian Haddasah, setiap kegenapan tahun, ia selalu menulis surat dan membawanya ke pusara Haddasah. Ini adalah suratnya yang ketujuh. Surat yang pendek.
Dear Haddasah,
Ini adalah surat yang ketujuh dan terakhir. Sebagai restu tulus untuk kepergianmu yang tidak pernah pulang itu. Abadikan aku dalam kesucian cintamu, seperti aku mengabadikanmu. Karena pikiran akan dimakan lupa, ingatan akan ditelan amnesia. Hanya Cinta yang abadi. Seperti cinta kita yang adalah dariNYA.
Haddasah, engkau tahu sungguh, cintaku kepadamu bersumber pada cinta ALLAH. Aku mencintaimu dalam perspektif keallahan.
Ttd. Daniel
Ia menggali sebuah lubang di halaman belakang rumah, meletakkan kotak barang-barang peninggalan Haddasah dan membakarnya. “Terbanglah melewati tingkap-tingkap langit, ke yang empunya ingatan”. Ia setengah berteriak melihat kepulan asap yang mengangkasa. “Aku mau bebas dari semua ingatan tentang dirimu”, lalu setelah itu, ia menutupi bekas lubang itu dengan tanah.

***

Tujuh tahun, setelah Surat ketujuh itu dikirim, Daniel kembali menuju altar. Kali ini tidak dengan air mata lagi, tapi senyuman tulus yang menghiasi wajah tampannya. Gemma yang menunggu di pintu utama gereja tampak cantik dengan gaun pengantin sutera berwarna putih. Ia menatap Daniel yang berjalan ke arahnya.

“Selamat Siang Romo”, beberapa umat menyapanya secara serempak. Daniel balas menyapa dan memberikan salam kepada mereka. Gemma memeluk Daniel yang kini sudah menjadi pastor. Hari itu, Gemma akan menikah dengan Albert, kekasihnya sejak SMP. Daniel menjadi imam yang akan menikahkan mereka.
Dalam khotbahnya, Romo Daniel mengupas tentang Cinta Kasih. “Berpijaklah pada kasih”. Ia menjelaskan bahwa KASIH memperanakan segala kebajikan-kebajikan hidup; kelemahlembutan, rendah hati, tidak mementingkan diri sendiri, tidak sombong, murah hati dan nilai kebajikan lainnya. Ia menjawab panggilan TUHAN karena dan atas dasar KASIH. Keputusannya untuk menjadi imam, bukanlah pelarian. Itu terjadi karena KASIH. “Terimalah KASIH itu, ia tersedia bagi kita semua”. Ia menutup khotbahnya.

Setelah perayaan misa usai, Daniel memberikan Liontin bertuliskan “A true love is an eternity”, kepada Gemma dan Albert. Ia memeluk kedua mempelai itu, “Abadikanlah cinta kalian”. Ia membisik.
Daniel, pemuda yang ditinggal mati tunangannya, kini menjalani panggilan imamat. Ia mempersembahkan seluruh hidupnya untuk kemuliaan Tuhan dan pewartaan tentang KASIH Tuhan yang tidak berkesudahan itu.
Kini ia kembali bertelut di hadapan arca Bunda Maria sang Jubah Pelindung. Sepotong doa terlontar dari dirinya. “Jubah pelindung, bundaku, di hadapan-mu aku berjanji untuk menulis tujuh puluh surat, untuk kemuliaan dan keluhuran Tuhan Allah Semesta Alam. Bawalah aku senantiasa di antara lalu lalang KASIH Allah yang mewujud nyata dalam dirimu”. (Edward Wirawan)







Share:

0 komentar