SIMBOL

5 Agustus 1962, Marilyn Monroe tergeletak kaku. Di atas meja, di samping tempat tidurnya, ditemukan sebuah botol obat tidur yang kosong. Kematiannya pun resmi diklaim karena overdosis obat. Tetapi ada spekulasi lain. Monroe yang jelita itu dibunuh! 

Kematian itu tak diusut. Tak ada otopsi jenazah. Kematian yang tragis dan menimbulkan pertanyaan. Tetapi semua dianggap wajar. Monroe yang aduhai itu, pergi diiringi tangis dunia hingga hari ini. 

intoday.com
 

Monroe, adalah impian seluruh lelaki. Ia simbol seks yang mungkin kekal. Di era kejayaannya, keluarga Kennedy adalah ‘penguasa’ demokrasi Amerika. John Fitzgerald Kennedy yang tampan menjadi presiden AS paling populer dalam sejarah.

Jadilah Monroe memiliki popularitas yang serupa dengan Kennedy. Kesamaan ini, mungkin menjadi alasan mengapa Monroe dan Kennedy tidur seranjang, berkali-kali menurut rumor. Berbagai gaya, menurut gosip.

Ada rumor kala itu. Presiden John Fitzgerald Kennedy dan saudaranya Robert F Kennedy ada bersama Monroe di momen penghabisan itu. Rumor itu rasa-rasanya benar. Sebelum kematiannya, Monroe mengklaim akan membongkar perselingkuhan Kennedy bersaudara itu. Oleh keluarga Kennedy, Monroe dianggap sebagai ‘popularitas’ yang akan mengancam kehormatan keluarga Kennedy.

Popularitas Monroe dan Kennedy berbeda dimensi. Popularitas Monroe hanya menjadikan ia sebagai fantasi. Tak ada harapan untuk menjamahnya, apa lagi bergelayut semalam suntuk bersama dia. Bagi Kennedy dan kedua saudaranya, Monroe bukan fantasi. Mereka menjamahnya dengan detail; menurut rumor.

Monroe hadir dalam imajinasi remaja yang sedang melewati masa pubertas. Mungkin hadir dalam diri suami yang tak puas. Monroe juga konon, hadir dalam fantasi Soekarno. Saat ke AS, Soekarno menyempatkan diri untuk bertemu dengan Monroe. Tetapi, saya hakul yakin, Soekarno tak sempat; maaf, sebagaimana biasanya.

Popularitas Monroe adalah tentang kelembutan. Tentang ‘kekuasaan’ yang tak perlu ditakuti. Tetapi dimiliki bersama dalam dunia yang bernama Fantasi. Kelembutan mengandaikan sesuatu itu sebagai anugerah. Mengalir begitu saja. Toh, itu bukan miliknya seutuhnya.

Persis di sinilah beda popularitas Monroe dan JFK (keluarga Kennedy). Monroe murni kelembutan. Kennedy kelembutan yang palsu. Di dalam Kennedy ada pedang yang tajam. Pedang yang terbuat dari demokrasi. Pedang kekuasaan.

Semua penguasa Politik memiliki pedang yang sama. Jokowi yang lemah lembut juga memiliki itu. Dan dia pandai menggunakan pedangnya. Segala yang merongrong wibawa-nya akan berhadapan dengan pedang. Anies Baswedan misalnya. Ia dituduh menggunakan jabatannya sebagai kendaraan Politik Masa Depan.

Tetapi mungkin tak seksi jika tak menyebut Sri Mulyani. Dengan pengalaman dan isi kepalanya, Sri M layaknya Monroe. Ia cantik, pintar dan terkenal. Djokowi seperti Kennedy mungkin tergoda dengan Sri M. Jadilah Sri M pulang untuk berbagi ruang kekuasaan dengan Jokowi.

Kembalinya Sri M, menambah gairah kita. Ia akan membangkitkan ekonomi kita yang lesu. Jika Monroe adalah simbol seks, sebuah fantasi, Sri M adalah sebuah harapan. Sri M yang cantik itu memang sungguh piawai soal ekonomi dan keuangan. Kita dukung Sri M dan tetapi mengawasi sang pemilik pedang. Akhir-akhir ini, ia kerap menggunakan pedanngya. Sebagian tanpa alasan yang jelas.

Hanya Sri M harus menyadari, popularitasnya adalah tentang kelembutan. Jika kelembutan dan pedang tak lagi sejalan, maka yang tersisa adalah pedang yang berdarah. Tak ada pilihan. Di Indonesia, kita tahu, politik yang liar itu menjadi brutal tak terkendali. Kekuasaan, seperti ksatria lengkap dengan pedang yang selalu di luar sarung. Ia menebas kapan saja ia mau dan tak terduga. Bukan tak mungkin Sri M akan menjadi Monroe; Cinderella yang nyata tetapi tanpa akhir yang meyenangkan.

Itulah yang persis sama dari Kennedy dan Monroe; hasil akhir yang tak meyenangkan. Monroe yang tragis, tertawa dari langit, kala melihat Kennedy yang rubuh tertembak. Ia semakin bersorak, ketika tahu, keluarga Kennedy runtuh di negeri demokrasi. Demokrasi memang mengisyaratkan tak kekalnya sebuah kekuasaan. Megawati hanyalah sebuah anomali. [E-One]

Tags:

Share:

0 komentar