API DI TENGAH KELESUAN RASA NASIONALISME

FAJAR baru saja pecah. Orang-orang mulai menjejali bagian depan Istana Merdeka. Ketika matahari terus beranjak ke meridian langit, jumlah mereka semakin bertambah, sekitar ribuan orang. Lensa kamera paling canggih pun tak mampu untuk mengabadikan mereka dalam satu frame. Mereka datang dari wilayah seputaran Jabodetabek. Tetapi bukan untuk berdemo. Pagi itu, 17/8, mereka datang untuk merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke 71.
Sejak Jokowi menjadi presiden, Perayaan HUT Proklamasi kemerdekaan memang selalu dikemas dalam konsep “Pesta Rakyat”. Tetapi tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada perayaan HUT Proklamasi Kemerdekaan ke 71 ini, Istana begitu terbuka bagi masyarakat. untuk bersama merayakan hari paling bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Antusiasme masyarakat seakan mematahkan hasil riset, soal bangsa Indonesia yang sedang mengalami degraditas (penurunan) rasa nasionalisme. Harian KOMPAS edisi Senin 15 Agustus 2016 menerbitkan hasil jajak pendapat soal; “Tantangan Terhadap Nasionalisme.” Salah satu dari empat pertanyaan dalam jajak pendapat ini adalah; Menurut Anda, makin kuat, tetap, atau makin lemahkah rasa nasionalisme dalam diri bangsa Indonesia saat ini? 28,3% menjawab makin kuat. 21, 2% menjawab tetap, 49,9% menjawab makin lemah, dan 0,5 menjawab tidak tahu.
Dari jajak pendapat ini, muncul beberapa alasan, mengapa rasa nasionalisme menurun. Di urutan teratas, muncul alasan lunturnya minat budaya dan produk lokal. Alasan kedua, perekonomian dan ketiga, individualisme yang membuat kesenjangan sosial semakin membesar. Ketiga alasan itu bisa dipahami sebagai dampak buruk dari modernitas yang menetaskan globalisasi.
Para pemikir Hubungan Internasional persis sepakat, globalisasi telah meretas batas-batas budaya dan geografis dan menyatukan dunia dalam tatanan baru, yang bernama era global. Beberapa studi lain juga menyimpulkan bahwa Indonesia memang mengalami degraditas rasa nasionalisme. Misal, Kurniawan (2009). Dalam penelitian berjudul “Sikap Nasionalisme di kalangan siswa SMA”, Kurniawan menyimpulkan bahwa terkikisnya rasa nasionalisme karena arus globalisasi yang merebak tanpa penghalang.

Sangat Indonesia
Ada sebuah daya tarik pagi itu. Duplikat Sang Saka Merah Putih dan Naskah Proklamasi diarak dari lapangan Monumen Nasional (Monas) menuju ke Istana Merdeka. Kedua benda pusaka itu diarak dengan kereta Kencana asal Purwakarta. 
Maria Felicia
Di belakang dan samping kereta, pasukan berkuda dari TNI mengiringi perjalanan Bendera Pusaka. Arak-arakan persis dimulai dari pintu masuk Monas, di Jalan Merdeka Barat. Di sekitar Monas, warga bagaikan lautan manusia. Semakin lama, semakin padat tetapi dalam suasana teratur.
Di dalam kereta kencana bernama Ki Jaga Raksa itu, dua orang dara jelita duduk berdampingan. Keduanya masing-masing membawa bendera Pusaka dan naskah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Kedua nona itu adalah Maria Feliciani Gunawan dan Amelia Septiantini, anggota paskibraka. Feliciani bahkan pernah menjadi pembawa baki bendera dalam HUT proklamasi Indonesia ke 70, setahun silam.
Di sepanjang jalan, rombongan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Maju Tak Gentar. Nampak, masyarakat yang mengapit badan jalan ikut bernyanyi. Sebagian mengabadikan momen itu dengan gadget di tangan. Raut-raut kebanggaan muncul dari wajah-wajah mereka.
Tak terpungkiri, Indonesia negeri yang kaya akan suku, budaya dan adat-istiadat. Hari itu, berbagai perwakilan masyarakat adat kerajaan dari seluruh penjuru negeri ikut mengarak Merah Putih. Tak hanya itu, Tim Marching Band dari korps Jakarta mengiringi Kereta. Di belakang kereta, berjajar pasukan pembawa panji-panji kerajaan yang pernah ada di Indonesia.
Busana yang beragam menjadi cermin wajah Indonesia yang beragam. Warna itu menjelaskan tentang kemajemukan yang melekat dalam diri bangsa Indonesia. Di bawah kibaran Sang Saka Merah Putih, semua perbedaan itu menyatu ke dalam ‘Indonesia’.
Entah apa yang terlintas di kepala Presiden Jokowi, sehingga bendera pusaka yang selama ini berdiam di Monas diarak keluar untuk disaksikan nusantara. Mungkin Jokowi juga mahfum bahwa masyarakat Indonesia sedang mengalami krisis rasa nasionalisme.
Sehari sebelumnya, Kepala Sekretariat Presiden Darmansyah Djumala, mengatakan, ''Bendera pusaka akan diarak dari Monas. Sebab, bendera itu adalah simbol negara yang kita sakralkan. Jadi memang bendera negara itu mestinya disimpan di Monas seperti dulu. Akan kami arak dari Monas sampai ke Istana Merdeka. Itu salah satu yang baru," kata Djumala di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa 16/7.
Saat arak-arakan berlangsung, di dalam kompleks Istana Negara para tamu undangan telah berdatangan. Tiba di istana, rombongan disambut dengan gegap gempita dan tepuk tangan meriah.
Perayaan upacara ke 71 pun semakin semarak. Pementasan seni dan budaya Indonesia menyajikan kekayaan sejarah bangsa ini. Tak hanya itu, panitia juga mengadakan pertunjukan inovasi teknologi. Ini merefleksikan bahwa kemajuan adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa ditolak. Tetapi di atas kemajuan itu Indonesia tetap berkibar, seperti Sang Merah putih.
Ada sebuah catatan. Mungkin perayaan hari-hari besar nasional harus seperti ini. Tak hanya menjadi peringatan belaka. Tetapi menjadi momen yang merawat ingatan bangsa bahwa kita yang berdiam di bumi nusantara ini adalah Indonesia. Perayaan seperti ini akan membangkitkan rasa nasionalisme yang selama ini lesu dan meredup.

Edward Wirawan

Share:

0 komentar