RUMAH

KAU bisa pergi ke manapun kau mau. Melihat apa pun yang kau mau. Tetapi satu-satunya tempat terbaik adalah jika orang-orang yang kau kenal dan kasihi ada di sana. Narasi ini diungkapkan John Smith, si Number Four dalam percakapan dengan Sarah, fotografer jelita dalam film ‘I am Number Four’.



Dari album pribadi Sarah, John menyaksikan koleksi itu sebagai potret Sarah yang ingin keluar dari zona nyaman keluarganya. Sarah, dalam segala limpahan kasih sayang orangtua dan adiknya justru ingin pergi dari rumah. John yang bertamu ke rumah itu melihat sisi lain. Rumah Sarah, baginya adalah tempat yang amat indah. Tempat di mana John bisa – untuk meminjam Heidegger – ‘berdiam dengan puitis.’

Sah-sah saja John menilai seperti itu. Ia datang dari planet Lorien yang jauh. Ia hijrah ke bumi untuk suatu misi penyelamatan generasi Lorien yang diserang dengan pongah oleh Mogadorians; alien invantor. John bersama sembilan saudaranya dilarikan oleh para pengawal Lorien ke bumi. Mereka bahkan tak tahu, siapa ayah dan ibu mereka.

Sarah dan rumahnya yang damai itu memang menyilaukan John. Mungkin karena ia lelah berpindah-pindah. John dalam narasi awal film besutan sutradara D.J Caruso itu, membenci hidupnya yang mesti berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Para Mogadorians yang berpostur raksasa itu, menelusuri setiap sisi bumi untuk menemukan John dan saudara-saudaranya. John dengan perlindungan Henry, sang pengawal senantiasa hijrah. Di setiap malam, John mendengar deru nafas para Mogadorians datang mendekat. Lantas, rumah Sarah yang hangat dan beratap kasih itu memberi keteduhan hebat dalam diri John. Atau adakah yang lebih megah dari sebuah rumah dengan kasih sayang menjadi atapnya?

Tetapi tak selalu demikian. Di dunia ini, tak ada yang benar-benar selesai. Kegembiraan yang tampak di wajah seseorang kadang begitu menggiurkan. Namun kita tak pernah tahu ia menggendong salib berat di balik senyumannya. Sarah yang telah berdiam dengan puitis itu justru ingin pergi; tanpa tahu alasannya. Mungkin karena kita, kata Pizarnik; ‘pada akhirnya kita harus pergi’.

Kejenuhan Sarah juga sebuah isyarat. Bahwa di dunia ini tak ada yang benar-benar tuntas: selesai. Bahwa sedamai apa pun, sesuatu dalam diri kita terus bergerak. Bukan sekadar karena hasrat. Ini sebuah tanda bahwa sesuatu dalam diri kita menyadari; dunia ini tidak ada yang kekal. Kita menyadari, bumi ini bukanlah akhir. Kita atheis ataupun tidak, kita akan pergi. Mungkin ke surga atau neraka. Di ujung sana, ADA yang lebih tahu.

Sebuah rumah tidak pernah bermakna tunggal sebagai -suatu tempat. Tidak juga kita bisa simpulkan dengan sebuah tempat dan keluarga di dalamnya. Sebuah rumah dalam artian fisik bisa saja menjadi sebuah neraka. Atau dengan apakah kita mengumpamakan ini: sebuah rumah dan setiap orang di dalamnya asyik dengan diri sendiri tanpa aturan dan kasih sayang? Atau sebuah rumah dan penghuninya dikoyak perceraian? Atau sebuah rumah dengan pengekangan yang luar biasa. Bukankah itu layak disebut penjara?
 

Henry Nowen menulis sebuah pertanyaan yang menggugat: Mengapa orang perlu berkomunitas? Orang berkomunitas karena adanya kesadaran ia tak bisa berdiri sendirian. Ia harus berbagi dan menerima. Sebuah rumah mungkin perlu kesadaran semacam ini.
 

Rumah lebih dari sekadar tempat yang indah. Rumah mensyaratkan kasih sayang dan kerelaan untuk berbagi dan menerima. Dan sebuah kasih sayang bukan berarti tanpa adanya aturan; atau sebaliknya ada pengekangan yang luar biasa. Kasih sayang itu mensyaratkan kebebasan, meski dengan batasan tertentu. Kita tahu, prahara kadang berwajah damai. Sebuah kasih sayang yang bodoh dan ceroboh dalam sebuah rumah tak berbeda dengan pisau belati di tangan perampok.

John lantas menyadari satu hal. Rumah atau tempat terindah itu bukan Lorien, tempat kelahirannya. Tempat terindah itu adalah bumi, di mana ia bisa hidup, mengenal dan dan mempertahankan hidup. Di bumi, John bisa mencari saudara-saudaranya. Di bumi John bisa menambatkan hatinya pada Sarah. John, sebagaimana alien dari Lorien lainnya memiliki sebuah kutukan: Mereka hanya bisa mencintai satu orang dalam hidupnya. Pada akhirnya, tempat terindah (rumah) itu, lebih dari sebuah letak geografis. Di Lorien, tak ada lagi yang tersisa. Yang John tidak tahu, bumi juga memiliki Mogadorians bernama Manusia. [E-One]




**Catatan ini sebagai respon atas pertanyaan teman di email; "Mengapa tidak menulis di blog lagi?" Sesungguhnya, saya selalu ingin mengisi situs pribadi ini dengan tulisan setiap harinya. Namun seperti Ebiet G Ade yang enggan menyanyikan lagu orang lain, saya juga merasa enggan untuk mengkopas tulisan esai atau feature orang lain ke blog. Jangankan itu, saya bahkan enggan untuk menerbitkan feature-feature karya saya yang terbit setiap minggu di Majalah. Blog ini, sejak awal hanya akan berisi esai atau tulisan lain bahkan catatan kecil saya. Salam!!

Share:

0 komentar