TROLLS

DI negeri dongeng Trolls hanya ada dua kutub: Baik dan jahat. Dan para Trolls berdiam di sisi yang baik. Di sana, kegembiraan itu nyaris total. Para Trolls hidup bahagia dengan tiga warisan; menyanyi, menari dan berpelukan. Para Trolls berpelukan setiap satu jam, menyanyi dan menari sepanjang waktu. Mereka hidup di sebuah pohon raksasa paling bahagia di muka bumi.

Para Trolls berukuran mini dan memiliki rambut yang panjang. Mereka berwarna-warni seperti pelangi. Barangkali, ini sebuah isyarat, bahwa kebahagiaan tak pernah sama apalagi tunggal. Seseorang bisa merasa bahagia dengan gaji yang cukup, memiliki teman yang hangat dan hidup yang bebas. Seseorang yang lain akan merasa bahagia dengan rumah mewah, mobil dan kekuasaan yang sempurna.
 

Ada sebuah cerita yang mengejutkan: Saya pernah berteman dengan anak seorang saudagar kaya. Ia anak tunggal dan memiliki segalanya. Tetapi ia hidup dalam suasana murung. Ibunya selingkuh dan ayahnya mati kena struk. Ia menjadi miskin dalam warisan lintas generasi ayahnya.
 

Dalam Fast & Farious 6, Bryan O’Conner yang diperankan mendiang Paul Walker telah hidup nyaman di Spanyol. Tetapi ia merasa ada yang kurang. Ia berkata kepada Dom. Aneh bukan? Kami punya segalanya, bahkan bir dan berbekeu. Tapi entahlah, rasanya seperti tidak sedang di rumah. Mungkin karena kita tidak akan tahu berharganya sesuatu sampai seseorang mengambilnya.
 

Ada cerita lain; Teman saya dua bersaudara. Mereka anak yatim. Ayah mereka pergi ketika usia mereka masih muda. Tetapi nyaris tak ada ruang kesedihan di rumah mereka. Saya merasakan damai sejahtera ketika berkunjung ke rumah di Kalibata itu.

Kebahagiaan memang tidak terletak di atas sebuah talam; di mana kepadamu itu disajikan dan engkau menyantapnya (E-One). Kebahagiaan, kata Poppy, salah satu karakter dalam Trolls, is inside us. Bukan berasal dari sesuatu yang masuk ke dalam tubuh kita. Kita hanya perlu mengeluarkannya.
 

Itulah kunci kebahagiaan para Trolls. Tetapi kebahagiaan mereka yang ‘berisik’ itu membangkitkan iri hati para Bergens. Film animasi karya sutradara Mike Mitchell dan Walt Dohrn menceritakan Bergens sebagai mahkluk berpostur raksasa, semberono tanpa ada kebahagiaan. Bergens iri hati dengan kebahagiaan para Trolls. Mereka pun menyantap para Trolls. Efeknya, mereka merasa bahagia. Lantas makan Trolls dijadikan ritual tahunan dan dinamakan Trollstice.
 

Para Bergens ini salah kaprah. Mereka bahagia bukan karena makan Trolls. Mereka bahagia karena ‘dendam’ yang terbayarkan. Tujuan yang sampai; menyantap Trolls. Mahluk Trolls sendiri bukanlah resep kebahagiaan. Jika engkau ingin hidup bahagia, kata Einstein, maka gantunglah itu pada tujuan dan bukan pada orang atau barang. Trollstice adalah sebuah tujuan para Bergens.
 

Ketika tiba Trollstice, para Bergens berkumpul di sekitar pohon bahagia untuk merayakan hari bahagia itu. Sejak pagi, Pangeran Gristle junjungan para Bergens sudah bergembira ria. Ini untuk pertama kalinya ia akan menyantap Trolls. Koki istana berencana akan menghidangkan Poppy, puteri mahkota para Trolls kepada pangeran Gristle. Ada sebuah catatan, Gristle merasa bahagia menyambut Trollstice. Mungkin ini menyiratkan, kebahagiaan adalah tujuan. Sesuatu yang lahir 9dari) dalam diri kita.
 

Tetapi Para Bergens mengamuk hebat ketika mendapati para Trolls melarikan diri dari pohon bahagia itu. Mereka murka bukan karena mereka tidak mendapatkan asupan Trolls. Tetapi karena kehilangan peluang tujuan mereka: Makan Trolls. Pangeran Gristel yang gembira dan bahagia jelang Trollstice menjadi murung; tujuannya tak sampai.
 

Kepergian para Trolls membuat suasana tak bahagia di kota Bergens menjadi nyaris sempurna. Pangeran Gristle yang ditinggal pergi ayahnya galau setengah mati. Meski ia naik tahta, ia tak bahagia. Mungkin karena doktrin bodoh ayahnya.
 

Tetapi dalam sebuah momen ia menjadi bahagia. Bridget sang babu istana diam-diam memendam perasaan pada sang pengeran. Doa Bridget terkabul, ketika para Trolls yang berhasil ditangkap Bergens berkenan membantunya untuk berkencan dengan sang pangeran. Para Trolls di bawah bimbingan Poppy, mendandani Bridget dengan warna. Para Trolls yang mungil dan berambut panjang itu menjelma menjadi rambut si babu Istana Bergans. Bridget yang menyamar sebagai Puteri Kemilau pun menyilaukan sang pangeran. Pada momen ini, kebahagiaan menyelimuti Pangeran Gristle.
 

Bergens Pangeran Gristle dan Bridget
Di tempat yang baru, para Trolls tetap menjalankan kehidupan bahagia. Hanya ada pesta, permainan, menyanyi, menari dan berpelukan. Tetapi ada satu Trolls yang tak bahagia. Ia bernama Branch. Ia tidak bahagia bukan karena para Bergens. Ia tidak bahagia karena kematian neneknya. Branch yang bersuara seperti malaikat itu menjadi Trolls yang berwarna kelabu. Branch ternyata amat puitis. Dalam sebuah momen, ketika ia dan beberapa Trolls lainnya ditangkap Bergens, Branch membisikkan kata-kata puitis ke telinga Bridget, sang Puteri Kemilau yang sedang berkencan dengan raja.

Puteri Poppy yang mulanya merasa Branch sebagai Trolls yang aneh, amat terpesona dengan puisi Branch. Di jaman ‘kematian puisi’ ini, momen itu terasa mendebarkan. Ternyata puisi tak pernah mati.
 

Happiness is Inside Us 
Nampaknya, Erica Rivinoja, penulis alur cerita film itu paham, tak ada surga di dunia ini. Bahkan dalam cerita terbahagia sekalipun. Karakter Branch adalah sebuah isyarat tak ada yang benar-benar total. Tak ada kesedihan atau duka yang sempurna. Seperti halnya sang pangeran Gristle. Ia Bergens yang bisa menemukan kebahagiaan.
 

Poppy, di akhir cerita berhasil membawa kebahagian ke tengah para Bergens. “Kebahagiaan ada dalam diri kita. Mungkin kalian hanya perlu bantuan yang lain untuk mengeluarkan itu.” Kebahagiaan memang tersimpan dalam diri kita. Kita hanya perlu menemukan ritme hidup kita dan hidup harmoni di dalam ritme itu.
 

Hidup akhirnya menuntut kegembiraan. Mungkin kita perlu belajar pada para Trolls yang menyanyi, menari dan berpelukan. Ada quotes Lao Tzu yang terkenal itu; “If you are depressed, you are living in the past. If you are anxious, you are living in the future. If you are at peace, you are living in the present.”
 

Ini mirip dengan perikop ‘Hal Kekuatiran’ dalam Injil Lukas. Janganlah kita kuatir akan apa yang kita akan makan dan minum. Perhatikan burung di udara tidak menabur dan tidak menuai tetapi diberi makan oleh Allah. Apalagi kita yang adalah gambaran diriNya.
 

Kebahagiaan itu saat ini. Itu sepenuhnya tergantung pada pilihan dan keputusan kita. Kita bisa memilih menjadi Bergens yang hidup di masa lalu atau Trolls yang hidup di saat ini. Kita bisa memilih mendengarkan musik bernada harapan dan kegembiraan atau musik duka dalam lirik-lirik murahan. Kita tahu, di dalam diri kita ada sumber kegembiraan yang tidak pernah habis dan kebahagiaan yang tidak pernah mati. Hati kita!! Tetapi kita tahu, itu tak gampang. [E-One]


**Thanks to a friend for sharing me the movie.

Share:

0 komentar